Posted in Artikel dan Opini

Abang Becak, Nasibnya Kini

Anda yang sudah menghirup udara dunia fana ini di era 70 dan 80-an barangkali tahu bahkan mungkin sudah sangat akrab dengan alat angkutan yang menggunakan tenaga manusia seperti becak. Setiap hari sudah barang tentu akan mendengar deringan lonceng becak yang kebetulan lewat tepat di depan rumah anda memanggil penumpang atau sekedar meminta jalan untuk numpang lewat.

Tak ubahnya di tempat saya jenis angkutan yang satu ini dahulu bahkan sampai sekarang masih ada. Pada era tahun 70 dan 80-an profesi penarik becak masih menjanjikan untuk dapat menopang hidup dan sarana mencari nafkah. Sebab jenis angkutan dan kendaraan modern seperti mobil, sepeda motor dan sebaginya masih dapat dihitung dengan jari jumlahnya terutama di daerah dimana saya berdomisili.

Kenyataan memang, meskipun mereka berprofesi sebagai penarik becak, terkadang dari sekian banyak para penarik becak masih ada yang mampu untuk menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi hingga menjadi sarjana.

Melihat kondisi dan keadaan para penarik becak sekarang, terkadang timbul rasa iba sendiri dalam hati saya. Kalau ditanya hati nurani mereka yang paling dalam guman saya, saya sangat yakin mereka tidak akan mau menjalani profesi sebagai penarik becak jika ada pekerjaan lain yang bisa mereka kerjakan.

Namun apa hendak dikata disamping lapangan kerja yang layak sangat sulit didapat bahkan tidak tersedia buat mereka-mereka yang terpinggirkan, modal usaha yang tidak ada, pun para penarik becak ini kebanyakan tidak memiliki pendidikan formal dan keterampilam yang memadai buat beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan buat menghidupi keluarga mereka.

Kini zaman sangat cepat mengalami perubahan dan pergeseran, kota yang dulu kecil sekarang mengalami perkembangan dan perluasan. Dahulu orang yang tinggal di kota kecil semisal kabupaten seperti tempat tinggal saya cukup hanya berjalan kaki atau memanfaatkan jasa abang becak ke pasar, kesekolah dan sebagainya, sekarang orang sudah mesti naik kendaraan minimal kendaraan roda dua, karena terjadi perluasan kota dan pertambahan penduduk sehingga jarak tempuh yang sudah jauh.

Alhasil jumlah pengguna jasa abang becak semakin hari semakin menyusut saja. Hampir setiap orang sudah memiliki kendaraan pribadi untuk pergi kemana-mana. Hal ini karena pelaksanaan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat berangsur-angsur membaik dan membuahkan hasil. Namun perlu juga dicatat disamping keberhasilan tersebut masih banyak lagi yang perlu di angkat tingkat dan taraf kehidupan warga masyarakat kita terutama yang tinggal dipinggiran semisal abang becak ini.

Dengan berkurangnya orang memanfaatkan jasa penarik becak, sudah barang tentu penghasilan mereka tidak seberapa lagi. Terkadang sudah sekian jam menunggu di persimpangan tak satupun ada orang yang hendak memanfaatkan jasa mereka, sampai-sampai mereka tertidur kelelahan di becak mereka sendiri dengan wajah yang penuh pengharapan, dengan pakaian sedikit agak lusuh menunggu penumpang. Dan jika hari sudah mulai gelap maka mereka pun pulang dengan wajah lesu dan lunglai.

Setiap kali saya menjumpai pemandangan yang demikian, apalagi si abang becak itu sudah kelihatan tua, kulit yang sudah keriput, gigi yang sudah tidak utuh lagi, tulang dan persendiaanya yang mungkin tidak sekuat waktu dia muda, hati saya selalu merasa kasihan dan berguman “apakah yang akan dibawa pak tua ini kerumah nantinya buat anak istrinya sepulang seharian bekerja menarik becak, kuatkah tulang dan persendiannya mengayuh pedal becak untuk menapaki jalan yang mendaki, masihkan ada harapan hidup layak buat dirinya ditengah arus zaman yang sudah dipenuhi persaingan.

Apalagi saat ini sebagian masyarakat sudah terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan hedonisme, mementingkan diri dan kelompoknya sendiri, apatis dan tidak peduli pada orang dan lingkungannya , sungguh terasa begitu berat hidup bagi si abang becak jika terus-menerus menekuni profesi ini tanpa bisa berusaha dan beralih pada profesi dan pekerjaan layak lainnya. Mestinya mulai sekarang, terutama di tempat saya, para penarik becak perlu mengantisipasi dan mereformasi diri untuk menghadapi arus perubahan dan perkembangan zaman. Meminjam istilah orang-orang hebat agar para penarik becak tidak menarik becak lagi untuk bisa “survive” hidupnya.

Sungguhpun zaman berubah dan itu sudah kehendak Allah, setiap kita hendaknya jangan pernah berputus asa dan harapan dari rahmat dan kasih sayang Allah. Allah maha adil dan bijaksana serta tahu apa yang baik buat hambanya, teruskan perjuanganmu abang becak. Karena rezeki Allah yang mengatur. Wallahu’alam.

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s