Posted in Kajian Islam

Keadilan Allah

Beberapa hari ini cuaca mendung dan cendrung hujan, kebetulan hari ini libur akhir pekan dan suasana sedikit mendung. Aktivitas hanya dirumah saja dan sambil bolak-balik buku, nonton televisi trus tidur-tiduran. Nonton televisi acaranya siaran catut mencatut, melihat kejadian ini saya jadi teringat dulu waktu awal-awal kuliah di Pekanbaru punya kebiasaan beli koran Republika dan Majalah Ummat. Untuk koran Republika saya paling suka baca kolom Hikmah, sampai sampai saya buatkan bundel untuk kliping tulisan-tulisan tersebut. Pas lagi bongkar-bongkar buku ketemu lagi kliping-kliping saya itu yang saya beri sampul dengan judul “Kumpulan Hikmah Koran Republika.” Rasanya saya ingin berbagi tulisan (walaupun menyita waktu untuk mengetik ulang tulisan dalam kliping) beberapa toko-tokoh dan pakar yang saya kumpulkan kepada anda semua pengunjung blog saya, mudah-mudahan bisa mencerahkan dan bermanfaat terutama bagi diri saya sendiri. Berikut tulisan Bapak M. QURAISH SHIHAB yang saya ambil dari Majalah Ummat dengan judul HADIS SIASAT ALLAH. Saya pertama sekali membacanya (waktu itu kira-kira tahun 1993) sangat terkesan dan menyentuh kalbu. Berikut selengkapnya…

Hadis ialah segala hal yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa ucapan, perbuatan, atau ketetapan. Ada dua hal yang disampaikan Nabi : Sabdanya sendiri atau Firman Tuhan. Yang pertama disebut hadis Nabawi dan yang kedua hadis qudsi. Walaupun juga menyampaikan firman tuhan hadis qudsi berbeda dengan firman Tuhan, hadis qudsi berbeda dengan Al qur’an yakni :

  1. Lafal dan makna Alquran berasal dari Allah swt, sedangkan hadis qudsi maknanya saja yang berasal dari Allah swt,
  2. Al qur’an mengandung mukjijat,
  3. Membaca Al qur’an termasuk perbuatan ibadah, sedangkan membaca hadis qudsi tidak termasuk ibadah,
  4. Al qur’an tidak boleh dibaca atau bahkan disentuh oleh orang-orang yang berhadas, sedangkan hadis qudsi boleh,
  5. Periwayatan Al qur’an tidak boleh hanya dengan maknanya saja, sedangkan hadis qudsi boleh diriwayatkan hanya dengan maknanya,
  6. Al qur’an harus dibaca di waktu shalat, sedangkan hadis qudsi tidak harus, bahkan tidak boleh,
  7. Semua ayat Al qur’an disampaikan dengan cara mutawatir, sedangkan hadis qudsi tidak semua diriwayatkan secara mutawatir, tetapi kata-kata dan maknanya berasal dari Allah swt (Ensiklopedi Islam, 2:41)

Hadis qudsi tidak berbeda dengan Alqur’an karena keduanya memuat firman Tuhan. Keduanya juga membantu kita untuk mengenal sifat dan perbuatan Tuhan. Melalui keduanya kita berusaha menemukan jalan untuk mendekati Dia. Einsten pernah berkata, “I want to know God’s thoughts, the rest are details (aku ingin mengenal fikiran Tuhan. Yang lainnya Cuma tambahan saja).” Bila kita punya keinginan yang sama seperti Einsten, kita harus membaca Al qur’an dan hadis qudsi.

Hadis-hadis qudsi bertebaran dalam kitab-kitab hadis. Ada beberapa orang ulama yang mencoba menghimpun hadis-hadis qudsi dalam satu kitab. Muhammad Al-Madani misalnya menyusun Al-Idhafat al-Tsaniyah fi al-Ahadits al-Qudsiyah, Ibnu Arabi dari Aleppo menghimpunnya dalam Misykat al-Anwar. Diantara ulama mutakhir yang melakukan hal yang sama adalah Husayn Syirazi dalam kitab Kalimat Allah terbitan Karachi, Pakistan. Ia mengklasifikasikan hadis-hadis qudsi berdasarkan perbuatan Tuhan, antara lain, Ampunan Tuhan, Kehendak Tuhan, Kasih Tuhan, Siasat Tuhan.

Siasat Allah, Simaklah salah satu hadis qudsi tentang siasat Allah berikut ini. Nabi SAW bersabda, dahulu ada dua orang raja, raja mukmin dan raja kafir. Raja kafir sakit. Ia menginginkan sejenis ikan bukan pada musimnya. Waktu itu jenis ikan itu berada di dasar samudera. Para tabib yang putus asa menasihatkan agar raja segera mengangkat penggantinya. “Obat baginda pada ikan ini, kita tidak mungkin mendapatkannya.” Kata mereka. Allah mengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan itu keluar dari lubangnya di dasar laut supaya orang mudah menangkapnya. Orang pun menangkapnya, raja memakannya dan iapun sembuh.

Kemudian raja mukmin sakit, tapi sakitnya ketika jenis ikan yang sama tidak meninggalkan permukaan laut. Ia menderita penyakit yang sama seperti yang diderita oleh raja kafir. Para tabib menyebutnya ikan itu sebagai obatnya. “Bergembiralah, sekarang ini musim munculnya ikan itu,” kata para tabib. Lalu Allah mengutus pula malaikat untuk menggiring ikan itu dari permukaan laut sampai masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Orang pun tidak mampu menangkapnya.

Para malaikat langit dan penduduk bumi keheranan. Hampi-hampir mereka kebingungan. Kemudian Allah mewahyukan kepada para malaikat langit dan kepada para Nabi pada zaman itu, “inilah Aku, Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Maha Kuasa. Tidak menyusahkan aku apa yang kuberikan. Tidak bermanfaat bagiku apa yang kutahan. Sedikitpun aku tidak menzalimi siapapun. Adapun raja yang kafir itu, aku mudahkan baginya mengambil ikan bukan pada waktunya. Dengan begitu aku membalas kebaikan yang pernah ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang supaya ketika ia datang pada hari kiamat tidaklah ada kebaikan pada lembaran-lembaran amalnya. Adapun raja ahli ibadah itu, aku tahan ikan itu pada waktunya, ia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahannya itu dengan menolak kemauan dia dan menghilangkan obatnya, supaya ia datang menghadap-KU tanpa dosa, dan ia masuk surga.”

Firman Tuhan ini bukan saja menjelaskan siasat Tuhan atau kebijakan Ilahi. Ia juga menjawab kebingungan kita. Bukankah kita sering bertanya-tanya mengapa dia membiarkan mukmin yang saleh tidak henti-hentinya dilanda duka. Sementara orang durhaka terus menerus beruntung. Mengapa tiran yang zalim berusia lanjut, bertubuh sehat, sedangkan pemimpin yang adil meninggal dunia dengan cepat.

Dibalik kontradiksi itu, yang bertentangan dengan rasa keadilan kita, tersembunyi keadilan Ilahi. Inilah siasat Tuhan. “Politik” Ilahi. Kebijakan Tuhan berbeda-beda, bergantung pada keadaan manusia. Ia menerapkan kebijakan-Nya dalam bentuk bala, ujian. “Dan sesungguhnya kami akan menguji mereka sehingga kami mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kamu dan orang-orang yang bersabar.” (Muhammad.31).

Pada hadis qudsi yang lain, dalam kitab Kalimat Allah, Tuhan berfirman, “Diantara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekayaan, kelegaan dan kesehatan badan. Lalu kami menguji mereka dengan kekayaan, kelegaan dan kesehatan badan, sehingga baiklah urusan agama mereka. Diantara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada pula sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekurangan, kemiskinan dan penyakit. Maka kami menguji mereka dengan kekurangan, kemiskinan dan penyakit sehingga baiklah urusan agama mereka. Aku mengetahui dengan apa hamba-Ku yang mukmin menjadi baik dalam urusan agamanya.

Ada diantara hamba-hamba-Ku yang tekun beribadat. Ia bangun dari tidurnya, ia meninggalkan kelezatan ranjangnya. Ia mengisi malam-malamnya dalam keadaan terjaga. Dirinya kelelahan karena beribadat kepada-Ku. Kemudian Aku jatuhkan rasa mengantuk kepadanya satu atau dua malam. Aku perhatikan dia. Aku pelihara dia. Lalu tidurlah dia sampai waktu subuh. Ia terbangun, memarahi dan menyalahkan dirinya. Sekiranya Aku biarkan dia memenuhi kehendaknya untuk beribadat kepada-Ku, akan masuklah ujub (merasa takjub dengan diri sendiri). Ujub membawa kepada kerusakan karena amalnya. Akhirnya sampailah ia kepada kehancurannya karena takjub dengan amalnya dan merasa senang dengan pencapaiannya. Ia menduga bahwa dirinya sudah melebihi ahli-ahli ibadat. Ia merasa sudah sangat banyak beribadat kepada-Ku. Karena itu makin jauhlah ia dari Aku, sambil mengira bahwa ia mendekatkan dirinya kepada-Ku.

Janganlah seseorang bersandar kepada amalnya yang ia lakukan untuk memperoleh pahala-Ku. Sekiranya mereka menghabiskan seluruh umurnya untuk beribadat kepada-Ku, mereka masih jauh dari tingkat ibadat yang seharusnya bila mengingat apa yang mereka minta dari-Ku, berupa pemberian-Ku, kenikmatan di surga-Ku dan ketinggian derajat disisi-Ku. Tetapi, kepada kasih-Ku hendaknya mereka bergantung, karena anugerah-Ku hendaknya mereka bergembira, dan dengan berbaik sangka kepada-Ku hendaknya mereka menentramkan dirinya. Dalam keadaan demikian, tercurahlah kasih-Ku kepada mereka, sampailah kepada mereka keridhaan-Ku dan ampunan-Ku, maaf-Ku akan meliputi mereka. Inilah Aku, Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang karena itulah aku menamai diri-Ku.”

Siasat Tuhan ditegakkan di atas kasih dan ilmu-Nya yang meliputi langit dan bumi. Siasat-Nya melintas ruang dan waktu. Siasat kita didasarkan pada pandangan semasa, sangat b ergantung pada ruang dan waktu. Dalam hadis-hadis qudsi tersebut, Tuhan mengungkapkan kebijaksanaan-Nya. Tidak ada cara terbaik selain menyesuaikan siasat kita dengan siasat-Nya. Sayang sekali pandangan kita sangat terbatas, kita cenderung tergesa-gesa.

Pada awal perkembangan Islam, kaum mukmin menderita berbagai penyiksaan. Khabab bin al-Arat dibakar dengan setrika besi. Siksaan itu berhenti hanya karena lelehan lemak tubuhnya memadamkan nyala besi. Ia datang mengadukan ihwalnya kepada Nabi. Ketika itu beliau sedang bergantung ke tirai Ka’bah. Mendengar rintihan Khabab, Beliau bersabda : “Dahulu ada orang yang disiksa, digalikan lubang untuknya, gergaji disiapkan dan diletakkan diatas kepalanya, ia terbelah menjadi dua. Tetapi ia tidak bergeming dari keyakinan agamanya. Ada pula yang disisir dengan sisir besi sehingga lepas dagingnya dari tulangnya atau ototnya. Tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya. Demi Allah, Allah akan memenangkan agama ini sehingga nanti seorang musafir akan berkendaraan dari Shan’a ke Hadramaut, tidak takut akan apapun selain kepada Allah, sedangkan serigala berada pada kawanan ternaknya. Tetapi kalian cenderung tergesa-gesa.”

Seperti kita, Khabab heran mengapa umat Islam yang benar harus berada dalam posisi tertindas. Ia bingung mengapa Tuhan membiarkan orang-orang durhaka selalu menang. Ia ingin segera melihat umat Islam berjaya sekarang juga. Ia mengukur siasat Tuhan dengan siasat dirinya. Rasul SAW memberitahukan bahwa pada saatnya Islam akan menang juga. Tetapi masa-masa berat diberikan kepada para perintis Islam, al-sabiqun al awwalun, supaya iman mereka cemerlang seperti cemerlangnya emas yang dibakar api.

Bila kini anda dilimpahi berbagi kenikmatan dan keberuntungan, itupun ujian juga. Berdo’alah, mudah-mudahan urusan agama anda menjadi baik dengan kesenangan, bukan sebaliknya. Seorang ahli hikmah berkata “Aku tidak peduli apakah aku fakir, sakit, kaya atau sehat, karena Allah berfirman : “Aku tidak memperlakukan seorang mukmin kecuali dengan hal yang membawa kebaikan baginya.”

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s