Posted in Menyanyah

Dibalik Meja Disudut Ruangan Itu …

Membaca judul tulisan diatas yang terbayang mungkin bagi anda adalah apa yang menjadi topik pembicaraan hangat di tanah air dalam dekade dewasa ini. Apa itu ? tiada lain adalah perilaku menyimpang oleh sebagian oknum, lumrahnya atau yang populer disebut orang dengan korupsi.

Arti dari korupsi itu memiliki banyak pengertian. Para pembuat defenisi dan rumusan korupsi berpendapat sesuai dengan pendapatnya masing-masing. Namun bagi saya korupsi itu dari sudut “Pekok” adalah perilaku yang tidak pada tempatnya, menyalahi kaidah dan norma, mengambil hak yang bukan haknya, menyalahgunakan kewenangannya, tidak amanah, menyalahi sistem sosial dan agama. Tegasnya ada faktor kesengajaan berperilaku menyimpang sehingga terjadi ketidak sesuaian, mengakibatkan merugikan pihak-pihak lain. Kesengajaan itu dilakukan dalam rangka hanya untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya saja, sama sekali tidak mengindahkan kewajiban yang diembannya dalam segala sistem sosial, masyarakat, lingkungannya atau organisasi dimana seseorang berada. Dia alpa untuk menjaga keseimbangan dari dan dalam sistem dan lingkungannya sosialnya. Ah… entahlah !

Kupikir perilaku korupsi tidak hanya sebatas dibalik meja. Meja hanya perlambang dan selalu diidentikan dengan Pekerja Kantoran, Pejabat Birokrasi, Pejabat Badan Usaha Negara dan Swasta, Orang Berdasi, Orang Berseragam dan Orang Elit yang berpendidikan.

Menilik pengertian “Pekok” diatas, korupsi juga sesungguhnya bisa terjadi di semua lini, dipasar, diwarung kopi, di organisasi sosial masyarakat, dirumah tangga, di Mall, pasar tradisional, lembaga pendidikan bahkan lembaga keagamaan yang semestinya memberikan contoh baik.

Karena didalam lembaga yang bernafaskan keagamaan itu dipenuhi oleh orang-orang yang mahfum etika dan moralitas, dengan hukum-hukum baik dan tidak baik, benar dan tidak benar, yang mana hak dan yang mana kewajiban. Akhirnya… kita dikepung dengan perilaku “Pekok” Korupsi.

Pembaca, dengan judul diatas sebenarnya saya tidak membahas persoalan korupsi. Korupsi itu sudah ada yang sejak dulu kala dan sudah ada yang ngurusin. Saya juga tidak punya kapasitas membahasnya, Hahaha…. Lagi pula perilaku yang sudah tersistem dan terogansisir perlu masa merubahnya, sudah mendarah daging. Perlu Generasi baru yang berbeda untuk mengikis habis. Perlu penanaman nilai-nilai agama samawi kedalam jiwa generasi baru. “Revolusi Mental” kata rezim sekarang.

Menurutku yang “Pekok”, Revolusi Mental itu dimulai dari “Malam Pertama”.  Lah… Jauh-jauh hari Rasulullah SAW sudah memberikan tuntunan. Silahkan buka kitab-kitab ulama dan para orang-orang alim terdahulu, “beli no tu di toko buku, kalau gak nyantri di pondok, insya Allah melek”. Hahaha… emang Gua Santri, kampret juga gua ne sok ngajari.

Perlu banyak korban yang berjatuhan untuk mengikis budaya korupsi, karena kata orang “Pekok” Perjuangan menuju kearah jalan yang lurus itu tidaklah mulus, semulus kaki jenjangnya model tersohor, Aaagh…

Lewat judul di atas, gue cuma mau bilang dan cerita dalam tulisan “Pekok”. Namun bukanlah sembarang “Pekok”. “Pekok” yang bisa bikin “Terending Topik”. Hahaha…

Melihat catatan waktu, sudah hampir dua windu berada di balik meja itu, dibalik lencana itu, dibalik seragam itu, dibalik papan nama itu disudut ruangan itu. “waktu yang cukup lama gumanku”.

Tidaklah sebentar waktu dua windu, ibarat lagu, sewindu tak bertemu rasanya entah gimana gittou !, mungkin sudah lupa dan tiada yang tersisa.

Dalam rentang waktu itu langkah mesti tertegun sejenak, karena harus menghadapi kenyataan dengan kehilangan orang yang selama ini selalu bersama dari kecil. Itu adalah kenyatan yg mesti dihadapi, siapun dia nantinya akan tetap berjumpa.

Saat membuat tulisan ini, tanpa meja, hanya beralas karpet tua kecoklatan, jika di mikroskop terlihat banyak sekali kutu dan tungaunya. Dibersihkan tanpa penyedot seperti orang gedean, dibawah lampu neon malam terdengar sayup sayup alunan musik lagu mendayu-dayu yang entah siapa melantunkan, dibalik dinding plywood tetangga sebelah.

Heningnya malam terasa indah, walaupun asap masih mengitari. Karena rumah ini hanya terbuat dari papan, disana sini mesti ada lubang.

Asap yang mengitari tahun ini sangat memilukan dan banyak sekali memakan korban. Kenapa asap sebegitunya melanda bumi kita Riau. Apakah hutan terbakar sendiri atau sengaja dibakar, tiada yang tahu pasti jawabannya. Yang membesar dan ramai di media bagai “Tag Awan” hanya asap dan kobaran api serta korban, pesawat yang membawa air, aktivitas pemadaman, kunjungan turun lapangan.

Sementara pencetusnya entah dimana, entah siapa, berapa banyak, orang mana, saudara siapa, manusia atau makluk apa, konconya siapa, tampankah dia, cantik kah dia. Jika dia cantik, ingin rasanya kusunting dikau, biar gak bakar lahan lagi. Aaagh Entahlah…

Sesekali kadang terlintas dibenak. ataukah kita tengah menerima azab dari Allah SWT. Allah telah murka dengan tingkah polah laku kita. Tak terhitung kali banyaknya dan kita lupa serta tak menyadari bahwa kita telah mengabaikan apa yang diperintahkan-Nya.

Kembali ke meja itu, dibalik seragam itu, dibalik lencana itu, dibalik papan nama itu,  di sudut ruangan itu, sepertinya kita telah mengabaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita.

Jauh hari sebelum berada dibalik meja disudut ruangan itu, dibalik lencana itu, dibalik seragam itu, dibalik papan nama itu, ada idealisme yang tersimpan rapi dan wangi dalam memori. Entah idealisme apa akupun tak tahu, karena itu ada dalam jiwa masing-masing.

Namun dalam perjalanan waktu, hari, minggu, bulan dan tahun, dalam pergantian rezim, sebagian terkikis seolah hilang tanpa makna. Terbuai dengan kenikmatan yang dirasakan. Lupa dengan pedih dan letihnya orang-orang yang mesti ditanggung, dilayani bebannya, karena nikmat telah berada dibalik meja disudut ruangan itu, dibalik lencana itu, dibalik papan nama itu, dibalik seragam itu.

Kita memang manusia, bukan malaikat, yang perlu dan butuh akan penghidupan. Namun jangan lupa, kita juga tidak benar jikalau melupakan dan meninggalkan sisi kemanusiaan kita. Kehidupan akan terasa indah dan nikmat jika sisi kemanusiaan itu hal perdana dan bukan hal yang kesekian kalinya dilakukan.

Roda kehidupan akan terus berputar. Bak roda pedati, terkadang berada di atas terkadang berada di bawah. Di saat berada diatas semua kelihatan, namun tak kala berada dibawah akan terasa tertekan. Disaat tertekan itulah terkadang kita baru menyadari bahwa kita telah salah langkah.

Hedonisme dan kebendaan telah menggeranyangi disetiap langkah, tujuan yang hendak dicapai dalam bahtera tersamarkan dan terkaburkan bahkan hilang tiada berbekas. Sebenarnya apa yang hendak dilakukan, tiada yang tahu. Ketiadaan orientasi, hanya menunggu tanpa mahu tahu dan mencari tahu.

Bahtera terus berjalan namun kemana tujuan tiada yang paham. Didepan sana sudah ada yang menunggu untuk menerkam. Kaget dan hanya tahu akan hal itu, semua ingin menyelamatkan diri sendiri, sehingga bantera oleng antara tenggelam dan berjalan.

Disaat demikian semua masih tetap pada pendirian dan tak peduli serta kehilangan sisi kemanusiaan. Lupa akan kewajiban menghilangkan kepedihan titik peluh mereka yang memberi rasa kenyang.

Hal yang belum selesai dengan diri sendiri memang berat menyandang dibalik meja disudut ruangan itu, dibalik lencana itu, dibalik papan nama itu, dibalik seragam itu. Akan sering terkontaminasi antara keduanya. Sulitnya mencapai titik keseimbangan. Yang terjadi hanya dan selalu ketimpangan. Ketimpangan itu juga selalu mengorbankan siapa saja yang tetap mendahulukan sisi kemanusiaan.

Terkadang sisi kemanusiaan terkalahkan dan dilecehkan, tiada mendapat tempat dihati para hedonisme dan kebendaan yang tiada bisa menjaga titik keseimbanagan. Kesendirian dalam keletihan, keniscayaan yang mesti dijalankan. Apakah itu salah atau benar atau kebodohan tak juga jumpa jawaban.

Kelelahan dan keletihan itu terkadang mencapai puncaknya. Jikalau sudah demikian apa yang mesti dilakukan semua tersamarkan. Mestinya dibalik meja disudut ruangan itu menghadirkan ide-ide bernas, namun sayang hal itu masih jauh jika terus seperti ini dan tiada kesungguhan dan keihklasan dan selesainya akan diri sendiri. “two b kontinut”

Wallahu’alam

Yang paham silahkan dengan pahamnya dan yang tidak paham gak usah dipikirkan tulisan “Pekok” ini

Salam…

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s