Posted in Artikel dan Opini

Berselimut Dengan Kabut Asap

Suasana pagi di persimpangan empat Polsek Tempuling, saat mengantar anak sekolah, Jumat 11 September 2015.
Suasana pagi di persimpangan empat Polsek Tempuling, saat mengantar anak sekolah, Jumat 11 September 2015. Bukannya “embun pagi”, tapi “asap lagi”. (diambil dengan kamera HP Nokia Asha 210)

Tahun ini 2015 kembali kita masyarakat Riau diterpa bencana kabut asap akibat kebakaran hutan lahan yang terjadi diberbagai daerah. Kebakaran hutan lahan tidak saja terjadi di wilayah Riau namun juga telah terjadi di wilayah provinsi tetangga baik di Sumatera maupun di Kalimantan.

Bencana kabut asap tahun ini telah memakan korban dengan meninggalnya seorang Gadis kecil bernama Muhanum Anggriawati (12) Kamis (10/9/2015), sekitar pukul 13.00 WIB, usai dirawat selama empat hari di ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad, Pekanbaru. Hanum merupakan anak pertama Mukhlis, wartawan Harian Vokal.

Bencana kabut asap ini sudah membuat kita semua merasa kesulitan untuk bernafas. Apalagi bagi saudara kita yang mempunyai penyakit sebelumnya, akan sangat rentan dengan menyebarnya asap dan akan membuat penyakit ISPA dengan seketika mudah menyerang.

Ada banyak pendapat dan komentar dari masyarakat di pinggiran bahwa kabut asap yang terjadi tiap tahun ini adalah merupakan bencana akibat kesalahan dan banyaknya dosa-dosa kita terhadap lingkungan dan alam, kesengajaan dan kelalaian kita mengelola lingkungan, sampai juga ada yang mengatakan bahwa ini adalah ulah orang-orang bermodal besar/korporasi yang tidak serius menjaga areal usaha yang dikuasainya.

Saya juga sempat bertanya dengan saudara saudara kita yang lebih dulu hidup dan saya belum dilahirkan, apa yang saya tanyakan adalah untuk memperbandingkan kehidupan mereka yang dulu dengan kondisi sekarang, sejak bencana asap terus melanda kita tahun demi tahun.

Saya bertanya, “Apakah dulu 18 tahun sebelum ini pernah menemui bencana asap, kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya “? dan “Apakah datuk nenek kita dulu juga membakar lahan dalam mengolah lahan pertanian untuk bercocok tanam “?

Ternyata jawaban yang saya terima adalah mereka tidak pernah menerima asap yang sebegini menyesakkan dada setiap tahunnya. Kata mereka lingkungan kita dulu masih dipenuhi oleh hutan lebat, dan tanah gambut di bawahnya kelembabannya terjaga dengan baik.

Dulu juga mereka untuk menanam padi dan bercocok tanam memang sebagain ada yang membakar lahannya, tapi areal yang dibakar itu kan tidak seberapa dan tidak pernah menimbulkan kebakaran besar karena lingkungan saat itu masih terjaga dengan baik.

Kini kata mereka hutan kita semua sudah habis, pohon pohon besar yang dulu meyimpan air dan menjaga kelembaban tanah kita sudah tidak ada lagi. Hutan kita diganti dengan areal perkebunan yang kebanyakan ditanami oleh sawit yang nota bene menurut penelitian pohon sawit inilah yang menyebabkan keringnya dan gersangnya tanah, karena sawit itu sangat rakus akan hara dan air.

Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online).   Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.(https://adekrawie.wordpress.com)

Kesejukan dilingkungan kita sudah sirna karena hutan kita sirna, tiba saat musim kemarau tanah menjadi kering dan riskan sekali untuk terbakar. Apalagi tanah gambut yang kering sangat sulit dipadamkan, apinya tampak padam diatas namun dibawah masih membara dan jika angin datang maka bara itu akan menyala kembali.

Kabut Asap di Tanah Merah 13 September 2015. (foto diambil dari Akun Facebook Teman)
Kabut Asap di Tanah Merah 13 September 2015. (foto diambil dari Akun Facebook Teman)

Lantas apa upaya kita ?, saya pikir Pemerintah sudah mengupayakan untuk menanggulangi asap ini, sejak zamannya Pak SBY. Namun dengan segala keterbatasan dan “sesuatu” yang bagaikan buah simalakama kita selalu terjebak dalam lubang itu itu juga. Ada ungkapan dari Mantan Presiden kita Pak SBY, “hutan sengaja dibakar”,  ” jangan ada dusta diantara kita”. saat “Presidential Lecture” di Gedung Lemhannas, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (8/9). dalam rangka menyikapi persoalan kabut asap tahun ini.

Mari kita sama-sama menjaga lingkungan kita secara bersama-sama terlebih dahulu, mulailah dari hal-hal kecil dan peduli terhadap lingkungan. Para pemegang kendali dan pemodal yang memiliki lahan kelolalah lahan dengan baik dan benar serta bertanggung jawab, jika tidak mau maka sanksi dari Pemerintah akan tegas dan itu mesti dilakukan demi keselamatan kita bersama.

Tafakur dan instrospeksi diri seraya berdo’a kepada Yang Maha Kuasa pemilik alam semesta, semoga bencana asap ini cepat berlalu dan kita semua mendapat ampunan atas dosa dan kesalahan kita. Amin…

Wallahu’alam

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s