Posted in Kajian Islam

Jauhi Prasangka dan Menganggap Diri Lebih Baik dan Benar

Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah dan kehidupan orang-orang saleh terdahulu, yang dengan keluasan ilmu dan kebaikan akhlak mereka maka akan menjadi contoh dan tauladan bagi kita generasi islam sekarang dalam meniti kehidupan dunia akhir zaman yang semakin tua renta.

Kisah tentang Ibrahim Bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja ia melihat sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak ulama sufi ini bahwa alangkah buruknya perbuatan mereka dan menganggap sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Dan bukan hanya mabuk cinta bahkan mereka sedang mabuk sesungguhnya. Dan ini terlihat jelas disekeliling mereka berserakan botol minuman keras yang baru saja dihabiskan oleh mereka berdua.

Ibrahim bin Adham mengeleng-gelengkan kepalanya dan berpikir betapa muskilnya sepasang manusia ini bermaksiat sedemikian mudahnya dan seakan-akan tidak takut akan dosa-dosanya.

Tiba-tiba dalam jarak yang tidak terlalu jauh didepan mereka ada gelombang laut yang mengganas dan menerjang tepian pantai. Semua orang berhamburan untuk menyelamatkan diri dengan cara berlarian kedaratan. Namun nahas ada lima lelaki tak kuasa terseret oleh ganasnya ombak dan gelombang itu.

Seketika itu lelaki mabuk yang sedang bermesraan ditepian pantai itu berlari menuju ke arah lima lelaki yang terbawa arus gelombang dan hampir hanyut. Ia berusaha menyelamatkan para lelaki itu dengan cara menarik satu persatu untuk menyelamatkannya.

Ibrahim bin adham hanya bisa terpaku dan tercengang melihat kejadian itu dan hanya bisa terdiam ditempatnya tanpa bisa berbuat apa pun untuk menolong kelima lelaki yang hampir hanyut itu.

Tak berapa lama si lelaki pemabuk itu berhasil menyelamatkan empat orang lelaki hanyut itu. Kemudian ia kembali, namun bukan kembali kepada perempuan bersamanya tadi, melainkan ia menuju kearah dimana Ibrahim bin Adham berdiri.

Tanpa ditanya,  lelaki itu berbicara kepada Ibrahim bin Adham, “tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan.”

Belum selesai kebingungan Ibrahim Bin Adham, lelaki itu melanjutkan, “perempuan yang disebelahku itu adalah ibuku, dan minuman yang kami minum hanyalah air biasa.” Ia memberikan alasan, seolah-olah ia mampu membaca apa yang dipikirkan oleh Ibrahim Bin Adham.

Kejadian itu mampu menyadarkan seorang ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Orang yang tadi dianggapnya ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan dengan beliau.

Sang ulama saja bisa terjebak dengan sikap seperti itu, bagaimanakah dengan kita orang awan ini yang hidup sudah diakhir zaman ?

Merenungi kembali akan kisah diatas marilah kita simak firman Allah SWT.,  “Janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS an-Najm [53]:32).

Janganlah kita pernah menganggap diri kita suci dan bersih karena karena hakikat diri kita berada dalam ilmu Allah SWT, dan Janganlah kita memuji-muji keunggulan diri kita sebab mata manusia tidaklah buta.

Jika direnungkan, apa yang dimiliki manusia hingga ia layak merasa bangga ? Bukankah manusia selalu berada dalam curahan nikmat Allah SWT yang jika kita menghitungnya maka kita tidak akan mampu untuk menghitung nikmat Allah SWT yang telah diberikannya tersebut sejak kita terlahir kedunia.

Terkadang kita sering berada pada posisi menjustifikasi (menghakimi) manusia, atas sedikit fakta yang kita ketahui tentang kehidupan orang lain. Semisal takkala seorang teman tidak menyapa ketika berpas-pasan sekali waktu, seketika itu kita beranggapan bahwa ia telah sombong, padahal dibalik itu mungkin ia sedang dirundung masalah besar, sedih atau tak melihat dengan kita.

Disaat seorang teman tak memberi pinjaman uang, kita beranggapan kepadanya pelit dan tak mau menolong teman, padahal dibalik itu ia sedang berusaha mencari uang untuk kebutuhan ibu dan anak-anaknya atau untuk membayar utang-utangnya.

Disaat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas dibenak kita bahwa ia sama sekali tak menghargai undangan yang kita berikan, padahal disaat bersamaan mungkin dia sedang mendapatkan tugas dan tanggungan yang tidak bisa ia tinggalkan dan harus diselesaikan pada saat bersamaan.

Sikap seperti ini bisa jadi dan terkadang hanyalah sikap salah persepsi, akan sangat berbahaya jika tidak didukung dengan fakta yang sebenarnya. Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang akan terjadi adalah kekecewaan terhadap semua orang.

Nabi Muhammad SAW jauh hari telah mengingatkan kita umatnya, “berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling mematai-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang telah berprasangka buruk dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tidak akan mendapatkan pahala apapun, dan sebaliknya ketika seseorang berprasangka buruk dan sangkaanya itu salah maka ia akan mendapatkan dosa.

Maka dari itu hilangkanlah sikap berprasangka buruk terhadap sesama dan hilangkanlah sikap menganggap diri lebih baik dan benar dibandingkan orang lain, serta sikap menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang seseorang.

Semoga Allah swt selalu menolong kita dan memberikan hidayah kepada kita untuk dapat merenungi dan memetik pelajaran serta hikmah kejadian pada Ibrahim bin Adham diatas.

Wallahu a’lam bishawab.

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s