Posted in Artikel dan Opini

HUT Kemerdekaan RI : Momentum Melecut Kembali Nilai-Nilai Kejuangan dan Patriotisme

GarudaMenjelang Hari Raya Idul Fitri 1435 H / 2014 M tempo hari, seperti tahun-tahun sebelumnya kami sekeluarga biasanya melakukan gotong royong bersama-sama untuk bersih-bersih rumah. Maklum dilingkungan keluarga saya sejak zaman bahola hingga sekarang tak pernah memiliki pembantu rumah tangga. Semua dikerjakan sendiri dan bersama anggota keluarga mulai dari depan hingga urusan belakang. “Rasanya tak layak saja untuk memiliki pembantu rumah tangga, karena darimana datangnya rupiah untuk menggaji pembantu yang walaupun hanya seorang pembantu rumah tangga mengingat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan saya sebagai Pegawai Negeri Sipil biasa”.

Ditengah sedang bersih-bersih rumah tanpa sengaja dalam tumpukan buku yang tidak seberapa, berbalut debu dan akibat tumpahan bekas rayap serta akibat lama sekali tidak pernah tersentuh, saya menemukan sebuah buku lama yang sepertinya membukakan mata dan hasrat saya kembali untuk mebolak-balik lembaran halaman buku tersebut.

Tersebutlah pada bab IX halaman 263 bertuliskan judul dengan huruf kapital “KEWAJIBAN BERTANAH AIR”. Bersempena dengan bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni bulan Agustus bulan di Proklamirkannya Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945. Ada hasrat kembali untuk menuliskan kecamuk pikiran dan onak untuk diabadikan, disimpan dan diberikan serta dibagikan kepada saya pribadi terlebih dahulu dan anda pembaca semua -jika berkenan- sebagai anak bangsa Indonesia yang hidup di alam kemerdekaan saat ini, dengan harapan berkenan pula untuk bersama-sama mencerna, memikirkan dan menyikapinya jika memang layak dan bermanfaat.


Bermula di alinea ke empat tertulislah “Itulah dia tanah airmu, yang dengan sendirinya walaupun tidak disuruh oleh orang lain, engkau cintai dan engkau rindui. Jika engkau bermusafir jauh, bertahun-tahun engkau meninggalkan tanah air, walau engkau dikota yang sanggat indah, walaupun engkau berlayar menumpang kapal besar, walaupun hidupnmu senang sentosa dan pencarian terbuka ditempat lain, namun engkau senantiasa teringat pada tanah tumpah darah itu, tempat engkau dibesarkan. Teringat kampung halaman, teringat pandam perkuburan, tempat orang-orang yang engkau cintai. Sebab itu dalam mata seorang manusia yang halus perasaan tiada negeri yang melebihi keindahan tanah airnya : “Hujan emas dinegeri orang, hujan batu negeri sendiri, namun negeri sendiri tetap teringat jua”.

Didalam melihat kelebihan yang dicapai oleh tanah air orang lain, bertambah cintalah kita kepada tanah air kita dan ingin supaya ia beroleh kelebihan pula. Jika ia ditimpa suatu kesengsaraan, dan orang lain menyuruh menukarnya dengan yang lain, seorang pecinta tanah air tiadakan sudi. Dan jika tanah air beroleh jaya didalam perjuangannya mencapai kedudukannya yang pantas, seorang pecinta tanah air akan berkata “aku ini adalah putramu”.

Cinta tanah air adalah perasaan yang sangat halus dan dalam di hati manusia. Bahkan cinta tanah air itu timbul daripada “iman yang sejati”.

Dan karena itulah orang berani memberikan segala pengorbanan, karena cintanya kepada tanah air, orang sudi hidup sengsara, sudi dibuang, dibunuh, diazab dan disiksa. Karena cinta tanah air orang sudi bahkan memandang murah harga maut. Tanah air harganya lebih mahal, sebab itu mereka sudi menebusnya dengan jiwanya sendiri. Nilai nyawa menjadi murah buat menebus tanah air, dan mati adalah bukti cinta yang sejati.

Pra Kemerdekaan

Menyimak apa yang diungkapkan diatas, teringat kembali bahwa semua kita sudah mahfum bahwa bangsa kita dahulu pernah dijajah oleh bangsa asing dari daratan eropa yakni Belanda. Tidak kurang dalam kurun waktu tiga setengah abad lamanya kehidupan para nenek moyang tertindas. Waktu yang begitu lama dan boleh dikatakan kita kehilangan tiga generasi anak bangsa. Selain Portugis, Belanda, Jepang dari dataran Asia juga ingin menguasai tanah air, bahkan Belanda tahun 1949 berniat kembali ingin menguasai tanah air setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tidak sedikit penderitaan yang dialami oleh pendahulu kita dalam mempertahankan tanah air.

Bangsa-bangsa asing itu bermula datang hanya untuk berdagang. Mereka datang ke negeri kita yang terkenal dengan kekayaan alamnya melimpah dengan alamnya yang subur, tidak saja hasil tambang, laut dan juga pertanian dan perkebunan berupa rempah-rempah yang pada dasarnya sangat mereka butuhkan untuk menopang kehidupan manusia dan kebutuhan dunia akan manfaat dari rempah-rempah hasil bumi kita. Lama kelamaan mereka tergiur ingin menguasai semua yang ada pada tanah air kita.

Sejarah mencatat perjuangan heroik anak bangsa untuk memepertahankan diri dan melepaskan diri dari belenggu penindasan dan penjajahan tidak terhitung banyaknya. Kita tidak bisa mencatat semua apa yang pernah diberikan oleh anak bangsa saat itu dalam upaya mempertahankan tanah air. Perjuangan yang mereka lakukan mulai dari pergerakan pergerakan kaum intelektual dan terpelajar hingga perjuangan yang berdarah-darah dari saudara-saudara kita yang tidak kita kenali siapa mereka satu persatu serta tidak mungkin dilakukan tanpa adanya rasa dan semangat kecintaan akan tanah air dan keinginan untuk membebaskan diri dari penindasan dan belenggu penjajahan.

Sejarah telah pula mencatat patriotisme anak bangsa melalui pergerakan yang dilakukan dan dipelopori oleh para pemuda dan kaum intelektual tahun 1908 yang kita kenal dengan Gerakan Kebangkitan Nasional Pertama, yakni lahirnya organisasi Pergerakan Budi Utomo yang dipelopori oleh Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah merupakan salah satu upaya untuk memompa semangat perjuangan, patriotisme dan menumbuhkan kesadaran pada para pemuda dalam rangka membebaskan diri dari kekuasaan dan belenggu penjajahan.

Kesadaran itu lambat laun akhirnya menghasilkan walaupun dalam kurun waktu yang cukup panjang yakni kurang lebih 20 tahun kemudian tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 para putra dan putri indonesia membuat suatu ikrar : “BERBANGSA SATU, BERTANAH AIR SATU DAN BERBAHASA SATU : INDONESIA.” yang kita kenal sekarang dengan “Sumpah Pemuda”. Pernyataan ikrar ini memiliki tujuan dan nilai yang sangat strategis dalam rangka meneruskan cita-cita perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Pasca ikrar pemuda 1928, perjuangan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan terus berlanjut. Dalam kurun waktu Penjajahan Jepang setelah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, bangsa kita mengalami masa –masa yang cukup sulit. Jepang yang terkenal kejam memaksa orang-orang kita bekerja dengan paksa (Romusha) demi memuaskan hasratnya untuk menguasai dunia dengan memenangkan perang Asia Timur Raya.

Selama penjajahan Jepang bangsa kita khususnya para pemuda selain disuruh bekerja paksa juga dilatih dalam olah kemiliteran. Sedikit keberuntungan sebagai bekal perjuangan ditengah penderitaan. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang dipaksa menyerah kepada sekutu akibat diluluh lantakkannya kota Nagasaki dan Hirosima.

Kehancuran Jepang atas sekutu ini dimanfaatkan oleh para Pemuda Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Dengan semangat juang dan patriotisme yang tidak kenal menyerah yang dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta keikhlasan berkorban telah terpatri dalam jiwa pemuda dan rakyat Indonesia sejak 1908 untuk merebut kemerdekaannya, yang kemudian diproklamirkanlah kemerdekaan bangsa tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pasca Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa kita, tugas belumlah selesai, justru tugas-tugas berat selanjutnya sudah menanti. Pada awal mengisi kemerdekaan tidak sedikit masalah timbul, juga tidak sedikit kemajuan dicapai. Era kepemimpinan Nasional terus berjalan dan berganti, sejak presiden pertama Ir. Soekarno, seterusnya Soeharto, Habibie, Megawati Soekarnoputri, Abdurahman Wahid, dan sekarang Dr. Susilo Bambang Yudoyono.

Perjalanan sejarah bangsa kita dalam mengisi kemerdekaan banyak ditandai dengan dinamika. Dimasa orde lama yang selalu berkutat dengan ketatanegaraan, ideologi bangsa hingga maraknya pemberontakan-pemberontakan diberbagai daerah.

Lain Pula disaat orde baru perjuangan mengisi kemerdekaan ditandai dengan keberhasilan pembangunan, kehidupan dan rasa aman masyarakat terjamin, namun budaya dan mental korupsi dan KKN terlalu kuat tidak bisa dihilangkan dan berakibat runtuh dan terjadinya krisis disegala bidang. Sebab perjuangan untuk mengisi kemerdekaan tidak sejalan lagi dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Kondisi ini memicu terjadinya ketidakpuasan, krisis kepercayaan dan gejolak sosial ekonomi hingga terjadi krisis pada tahun 1998 yang akhirnya memunculkan tuntutan “reformasi” atas jalannya roda pemerintahan.

Dalam konteks mengisi kemerdekaan, reformasi barangkali semula dimaksudkan untuk kembali kepada semangat ‘Patriotisme Pra Kemerdekaan’ yang dengan rasa senasib dan sepenanggungan berjuang membebaskan diri dari belenggu penjajahan yang tidak mengenakan dan menyusahkan. Kinipun demikian, dengan tekad untuk mengembalikan mandat kemerdekaan sesuai dengan Pancasila dan amanat UUD 1945, mencerdaskan bangsa, mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan, membangun kemandirian bangsa, berkeadilan sosial, demokrasi dan kebebasan yang bertanggung jawab, kepastian hukum, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, patriotisme dan nilai kejuangan diperlukan.

Era Reformasi Sekarang

Sudah lebih dari satu dekade kita menjalani era Reformasi. Ada banyak kemajuan yang telah dicapai dalam rangka mengisi cita-cita kemerdekaan para pendiri bangsa. Berkaca dari sejarah perjuangan bangsa, sejarah patriotisme para pejuang kemerdekaan yang rela mengorbankan apa saja demi tanah air kita mesti merenung kembali, bisakah kita juga berjuang sebagaimana mereka dalam melanjutkan cita-cita mereka para pejuang bangsa untuk mengisi kemerdekaan.

Dahulunya mereka berjuang dengan memangkul senjata, kini kita para penerus bangsa berjuang diera digital dan kemajuan teknologi sudah tidak memanggul senjata sebagaimana mereka berjuang. Kemajuan teknologi sudah membawa kita kepada era baru. Era baru perjuangan untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan negara.

Kita sekarang hidup dialam kemerdekaan, namun kita juga mesti waspada dan tetap harus memiliki nilai-nilai kejuangan dan patriotisme sebagaimana pendahulu kita disaat Pra Kemerdekaan. Perjuangan yang tanpa pamrih, mengorbankan segala yang dimiliki patut dijadikan sandaran dalam rangka menyikapi dan meneruskan pembangunan bangsa. Kesadaran kita ini mesti tetap tumbuh untuk selalu memepertahankan jengkal demi jengkal tanah air dengan segala kekayaannya dari rongrongan musuh.

Bentuk kolonialisme zaman perang dunia kedua mungkin sudah hampir punah, namun tidak menutup kemungkinan muncul kembali. Namun kolonialisme zaman bahola itu tidak menutup kemungkinan bermetamorfosis kepada bentuk lain yang tidak kelihatan jika kita terus dalam kondisi tidak sadar.

Bahaya dan ancaman baru bagi bangsa kita saat ini terutama bagi para generasi penerus bangsa adalah pengaruh budaya dan pemikiran yang jauh sekali dari identitas dan jati diri bangsa sendiri. Generasi penerus bangsa kita mesti diarahkan untuk selalu melihat sejarah perjuangan bangsa sebagai penggugah terhadap jiwa kejuangan dan patriotisme pantang menyerah dalam membangun bangsa yang dewasa ini seolah-olah mengalami stagnasi dan pengikisan.

Dalam dekade reformasi dan proses bangsa menjadikan Demokrasi sebagai pilihan dalam berbangsa dan bernegara, kita temui banyak sekali tindakan dan kebiasan baru yang sama sekali bukan ciri khas dan budaya bangsa Indonesia yang dikenal santun dan ramah dalam setiap tindakan. Sejak era Otonomi Daerah dinamika kehidupan didaerah-daerah Indonesia mengalami banyak perubahan. Aksi anarkis dan kekerasan sering timbul yang terkadang pemicunya hanya dilakukan oleh propokator yang tidak bertanggung jawab. Namun kita terlalu mudah untuk terpancing sehingga dengan tanpa sadar melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain serta sesama anak bangsa.

Sentimen kedaerahan semakin meningkat dan bahkan ada daerah yang berniat dan mencoba untuk memisahkan diri dari NKRI. Pandangan ini tentu sangat berlawanan dengan ikrar yang pernah diucapkan para pemuda ditahun 1928 yang telah bersumpah untuk bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu yakni Indonesai. Tidak bisa dibayangkan jika keinginan memisahkan diri itu terjadi, tentu anak bangsa kita telah melanggar sumpahnya sendiri. Didalam kisah-kisah dan hikayat hikayat dahulu seperti kisah Bharatyudha jika ada yang bertindak melanggar sumpah dan janji, dia akan memerima hukuman dan konsekuensi akibat pengingkarannya itu.

Kekerasan dan budaya transaksional dalam mencapai sesuatu sepertinya seakan menjadi kelumrahan. Tidak saja dalam dunia politik, juga merambah dalam sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan lainnya. Segala sesuatu sudah mulai bergeser, terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dari ciri semangat dan jiwa masyarakat yang kuat cinta tanah air dan rela berkorban, ciri masyarakat yang rela bergotong royong saling dan membantu dengan penuh kesetiakawanan berubah dengan mengedepankan kalkulasi dan hitung-hitungan untung rugi.

Sikap apatisme sebagian masyarakat akan simbol-simbol kebangsaan dan himbauan-himbauan pemangku kepentingan dalam hal ini Pemerintah kepada kebaikan dan aturan acapkali juga diabaikan. Sebagai orang beriman tentu kita mesti bisa memahami apa yang diajarkan oleh agama bahwa kita mesti taat kepada Allah swt, taat kepada Rasul dan Ulil Amri. Taat kepada Ulil Amri perlu dilakukan sepanjang perintah itu mengandung kebaikan dan kemaslahatan. Adalah suatu pengingkaran atas ajaran Rasul jika kita mengabaikan ketaatan kepada perintah Ulil Amri yang mengarah kepada kebaikan.

Usia 69 tahun kemerdekaan jika ditamsilkan kepada seorang anak manusia adalah usia yang sudah memasuki senja. Dalam usia ini seorang anak manusia telah banyak menghadapi kenyataan pahit dan getirnya hidup. Ada banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada yang muda untuk diambil hikmahnya. Begitupun juga buat kehidupan bangsa Indonesia, dalam rangka menghadapi era kemajuan teknologi informasi saat ini, jiwa kejuangan dan patriotisme generasi penerus bangsa patut dipertahankan dan digelorakan terus. Peran dunia pendidikan sangat diharapkan dapat terus menggelorakan dan menanamkan semangat kejuangan ini kepada jiwa anak didik melalui pengajaran disekolah-sekolah, agar generasi penerus bangsa ini tetap berdiri dan kokoh dalam mempertahankan jati diri bangsa dan meneruskan titah perjuangan para pahlawan kemerdekaan.

Kecendrungan Paham Radikalisme dan Tantangan Global

Peringatan HUT RI ke 69 tahun 2014 mengusung tema “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Nasional Hasil Pemilu 2014 Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia Yang Maju dan Sejahtera”, merupakan tugas berat tidak saja para pemimpin bangsa, baik tingkat pusat maupun tingkat daerah, namun juga tugas kita bersama selaku warga negara Indonesia mulai dari masyarakat biasa sampai dengan yang berpangkat untuk mencapai tujuan pembangunan menuju Indonesia yang maju dan sejahtera.

Nilai nilai kejuangan dan patriotisme dibutuhkan dalam menghadapai tantangan radikal yang mencoba merongrong keutuhan bangsa. Dewasa ini pemikiran-pemikiran radikal acapkali masuk dan mencoba merasuki generasi muda yang memang tengah mencari jati diri. Adalah tugas kita bersama baik pemerintah maupun eleman masyarakat lainnya selaku anak bangsa untuk mencegah para generasi muda kita terjerumus kedalam kehidupan dan perbuatan yang bertentangan dengan jiwa Pancasila dan UUD 45.

Nilai-nilai kejuangan dan patriotisme juga sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan global yang akan menuju kepada arah pasar bebas. Terutama pasar bebas ASEAN tahun 2015. Kemandirian bangsa perlu terus dibenahi agar secara ekonomi mampu bersaing secara sehat dengan bangsa bangsa lain. Keunggulan bangsa terus dipacu dalam rangka menghadapai persaingan banyaknya produk-produk ekonomi bangsa lain yang akan masuk dan bebas beredar di negara kita. Agar kita tidak jadi penonton dan pasar empuk negara lain.

Bonus demografi yang segera akan kita miliki merupakan berkah serta tantangan tersendiri bagi kepemimpinan nasional yang baru. Bonus Demografi atau dengan kata lain Penduduk dengan usia produktif lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tidak produktif yang kita miliki dalam beberapa tahun kedapan akan dapat berkontribusi positif jika dari sekarang kita semua telah mempersiapkan generasi muda yang berkualitas dengan cara memperkuat kebijakan dibidang pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana.

Kebijakan pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkarakter baik, berakhlak mulia dan memiliki imtak disegala bidang. Kebijakan kesehatan dalam rangka menopang generasi dengan tingkat kesehatan yang sempurna serta kebijakan ketenaga kerjaan dengan membuka peluang kerja dan lapangan kerja seluas mungkin untuk menampung angkatan kerja yang rata-rata nanti berusia produktif serta mendorong tumbuhnya industri kreatif dari kekayaan dan kearifan lokal dan nasional.

Dalam rangka menghadapi semua itu, maka sekali lagi nilai-nilai kejuangan dan patriotisme perlu terus dipupuk kepada generasi muda untuk lebih meningkatkan diri dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan jiwa dan iman sejati.

Mengakhiri tulisan ini, Prof. Dr. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) pada alinea selanjutnya dalam buku ‘Lembaga Hidup’ hal 267 menuliskan “ Didalam mencintai tanah air, salahlah kalau orang meminta balas jasa. Sebab tanah air yang berjasa kepada kita, bukan kita yang berjasa kepadanya. Bukankah diatas persadanya kita telah dianugerahi hidup ?. Tanah airnya hanya dapat memberikan kepada kita kepahitan, kegetiran, kehausan dan kelaparan; kadang-kadang terbuang jauh tergantung tinggi. Kadang-kadang kita yang memulai dan anak cucu yang mengambil hasil. Balasan bagi kita hanya satu, yaitu kepuasan jiwa melihat tanah air itu jaya kembali. Kepuaan hati melihatnya sehat, duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan bangsa yang lain. Kepuasan hati melihat benderanya berkibar, dewan perwakilan bersidang membicarakan nasib sendiri dan maslahat sendiri. Kepuasan hati melihat kita telah mempunyai presiden dari kita untuk kita. Sesudah itu puaslah kita menutup mata, karena kepuasan yang untuk badan kasar, tidaklah akan ada didunia ini.

Bila cinta tanah air telah mendalam meski dalam kepapaan dan penderitaan, badan berasa dalam surga juga. Ada rupanya dalam dunia ini beberapa nikmat jiwa yang tiada dapat dikatakan, tapi hanya dapat dirasakan.

Cobalah misalnya engkau berdiri disatu tanah lapang, bersama-sama beribu ribu bangsamu. Waktu itu dengan perlahan-lahan, bendera tanah airmu, lambang kesatuanmu, berkibar ditiangnya. Sementara itu lagu musik dan nyayian sayu gembira terdengar pula. Ampun Tuhan, pernah air mataku titik iring-gemiring tiada tertahan-tahan. Seakan-akan terbayang sekaligus, kebesaran yang telah lama terpendam dalam safhat sejarah bangsaku.

Namun pertanyaannya sekarang, mampukah kita semua terus menggelorakan nilai-nilai kejuangan dan patriotisme seperti para pendahulu kita dalam menggapai cita-cita bangsa untuk maju dan sejahtera ?, “semoga, Dirgahayu Bangsaku”.

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

2 thoughts on “HUT Kemerdekaan RI : Momentum Melecut Kembali Nilai-Nilai Kejuangan dan Patriotisme

  1. Wah, bisa nemu ‘buku cinta’ dengan genre seperti itu, mungkin sekarang makin langka ya Pak Hendri? Sepakat, kita mesti belajar dari sejarah dan menjadi lebih awas—seperti soal kolonisasi yang wujudnya tidak harus dalam bentuk ‘penempatan pasukan’ lagi tetapi bisa pula melalui penancapan korporasi itu.

    1. Ass. terima kasih kunjungannya, ya benar yang anda katakan, kita mesti selalu mengingatkan generasi muda kita untuk selalu menjaga tanah air kita dari rongrongan kolonisasi zaman modern dalam bentuk lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s