Posted in Kajian Islam

Mudik Lebaran

Ada tradisi yang unik setiap tahun menjelang Idul Fitri di tanah air yang kita cintai ini yakni mudik lebaran alias pulang kampung. Pulang kampung alias mudik senyatanya dewasa ini sepertinya suatu keharusan bagi siapa saja yang sudah lama dan tengah merindukan untuk kembali kepada keluarga menyambut lebaran, namun tidak semua orang juga butuh untuk mudik karena alasan dan berbagai kepentingan lainnya terpaksa mereka tidak mudik.

Mudik dilakukan oleh masyarakat kita pada umumnya didasari oleh keinginan berlebaran dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman dengan jalan bersilaturahmi kepada seluruh keluarga sekaligus bermaaf-maafan, dan tak sedikit juga didasari oleh motivasi lain.

Setahun sudah berada dinegeri rantauan, baik itu mencari nafkah, menuntut ilmu, bertugas dan sebagainya, sudah barang tentu akan merindukan kembali ke kampung halaman berlibur sekaligus merayakan Idul Fitri bersama orang tua, keluarga dan sanak famili di kampung halaman.


Banyak cara dilakukan oleh masyarakat kita untuk bisa mudik lebaran, diantaranya didahului dengan bekerja membanting tulang di rantauan mencari nafkah sebagai bekal untuk dibawa pulang nanti saat lebaran tiba. Takkala lebaran sudah didepan mata tak sedikit dari kita rela dengan susah payah mengantre tiket, berdesak-desakan naik kapal laut, naik kendaraan umum, naik kendaraan pribadi, naik pesawat, serta mudik gratis dengan cara mudik yang mesti difasilitasi oleh tempat dimana pemudik bekerja, bahkan sampai turun tangannya Pemerintah dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada yakni mengalih fungsikan alutsista TNI seperti menggunakan kapal perang TNI untuk membantu agar masyarakat bisa mudik. Cara mudik masyarakat kita juga tak ketinggalan selalau menghadirkan tradisi mudik yang unik-unik, semisal menggunakan sepeda dan alat transportasi yang tidak lumrah.

Tradisi Mudik lebaran tak dapat dipungkiri terkadang juga berdampak positif bagi kegiatan ekonomi masyarakat, baik sektor formal maupun informal. Arus dan perputaran uang biasanya meningkat menjelang hari-hari besar keagamaan semisal idul fitri ini, terlepas dari hukum pasar yang kecendrungannya memicu inflasi sesaat.

Fakta menunjukan tradisi mudik setiap tahun ini menimbulkan problem dan masalah yang kadang meningkat dan terkadang menurun. Permasalahan tersebut tak lain dan tak bukan adalah terletak pada persoalan kecelakaan dalam aktivitas mudik yang menimbulkan korban jiwa dan materi. Berdasarkan catatan Mabes Polri dari Operasi Zebra yang digelar pada 28 November – 11 Desember 2013 terjadi memang penurunan kasus kecelakaan sebesar 17 persen. Pada 2012 ada 3.399 kasus kejadian lakalantas, sedangkan pada tahun 2013 ada 2.820 kejadian dalam periode yang sama. Dalam hal ini terjadi penurunan, namun tetap saja masih tinggi.

Penurunan angka lakalantas ini diikuti dengan penurunan korban dan kerugian materil. Korban meninggal terjadi penurunan sebesar 20 persen dari 797 orang pada tahun 2012 menjadi 640 orang pada 2013. Demikian juga korban dengan luka ringan, pada tahun 2012 terdapat 3.777 orang korban dengan luka ringan akibat lakalantas sementara tahun 2013 hanya 3.018 orang. (Jurnas.com).

Kita patut apresiasi atas prestasi ini dan berharap di tahun 2014 kasus-kasus kecelakaan dan lainnya dalam aktivitas mudik dapat ditekan kembali seminimal mungkin.

Banyaknya lakalantas dalam kegiatan mudik lebaran biasanya dipicu oleh tidak disiplinnya sebagian masyarakat kita dalam perjalanan mudik lebaran untuk mentaati aturan berlalu lintas, aturan penggunaan kemampuan dan kapasitas kendaraan angkutan umum, kendaraan pribadi serta aturan dan petunjuk-petunjuk serta himbauan yang telah diberikan oleh Pemerintah agar mudik menjadi aman, nyaman dan selamat serta berkualitas dan manusiawi.

Dengan momentum puasa Ramadhan serta Idul Fitri setiap tahun, kita umat islam yang beriman tentunya sudah ditempa dengan ajaran dan tuntunan puasa yang telah ditunaikan. Ada banyak pelajaran dan latihan yang telah kita lalui dalam menjalankan puasa, ada banyak tausiah Ramadhan yang telah kita dengarkan menjelang dan sesudah shalat tarawih, dan tak sedikit mungkin diantara kita yang diberi oleh Allah swt hidayah sehingga mengalami pengalaman rohani bertafakur merasakan keindahan dan keagungan Ramadhan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya karena gembira dengan bulan Ramadhan serta tulus dan ikhlas melaksanakan ritual ibadah di bulan Ramadhan baik yang wajib maupun yang sunah, sehingga jiwa yang tadinya penuh berlumuran dosa-dosa, jauh dari hidayah Allah swt menjadi lebur sehingga bersih dan kembali ke fitrahnya manusia.

Mestinya dengan nilai-nilai puasa Ramadan yang telah ditunaikan itu seharusnya mampu membuat kita menjadi insan yang benar-benar taqwa, sehingga tercermin dalam sikap untuk dapat mengendalikan diri kepada sikap lebih toleran, sabar, ikhlas, jujur, tulus, disiplin, memiliki etos kerja yang baik dan mampu melepas ego pribadi serta meningkatkan kepedulian sosial atau kepekaaan terhadap sesama untuk sama-sama membantu kesulitan saudara saudara kita dan menjaga keselamatan baik diri dan keluarga maupun keselamatan orang banyak dalam melaksanakan kegiatan mudik lebaran.

Kenyataan yang mengemuka pada sebagian kita selama ini, kegiatan mudik lebaran disamping untuk berlebaran dan bersilaturahmi dengan seluruh keluarga di kampung halaman dalam rangka membersihkan dosa-dosa dengan jalan meminta maaf kepada orang tua, seluruh keluarga dan sanak famili, tetangga dan handai taulan terkadang ada terselip sikap dan prilaku dalam melaksanakan tradisi mudik yang sedikit mulai bergeser dan bercampur kepada kebiasaan baru kalau tidak ingin dikatakan “budaya baru”, yang kecendrungannya bersifat duniawi dan kebendaan sehingga jauh dari hakikat tujuan ibadah puasa dan perayaan kemenangan idul fitri yang dikehendaki oleh petunjuk Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Kendati demikian kita janganlah terlalu jauh sampai terjebak dengan perbuatan dan sikap yang dibenci oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Mudik lebaran hanya semata-mata untuk tujuan duniawi dan kebendaan, sehingga kita terjerumus kepada sikap tidak terpuji dan jauh sama sekali dari predikat taqwa yang menjadi tujuan dari ibadah puasa selama Ramadhan. Akhirnya hasil tempaan selama bulan Ramadhan hanya sebatas sampai akhir Ramadhan, seterusnya semuanya selesai dengan selesainya Ramadhan.

Seyogyanya kita umat islam mesti harus bersikap penuh kehati-hatian dan berusaha untuk instrospeksi diri, jangan sampai tradisi mudik lebaran terus menjadi kebiasaan kosong dan hampa yang tidak bermakna tanpa mengandung nilai-nilai spiritual untuk kembali ke fitrah sesungguhnya sebagai manusia. Dengan berpuasa secara benar dan merayakan kemenangan Idul Fitri dengan benar pula, mestinya roh dan jiwa kita telah bersih dan dipenuhi dengan kebaikan serta predikat taqwa yang sebenar-benar taqwa oleh karena tempaan puasa selama Ramadhan. Sehingga kita sebagai umat islam akan menjadi umat yang mampu menghasilkan kemaslahatan bagi lingkungan dimana kita berada, mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan kelangsungan pembangunan bangsa. Bukan sebaliknya kebiasaan mudik lebaran cenderung mengedepankan sikap dan pola tingkah laku berseberangan dengan hakikat puasa dan konsep spiritual perayaan Idul Fitri.

Hiruk pikuk mudik lebaran biasanya dilakukan seminggu menjelang Idul Fitri. Waktu demikian adalah waktu dimana kita berada di sepuluh akhir bulan Ramadhan. Selaku umat islam kita mestinya mahfum bahwa sepuluh akhir bulan Ramadhan adalah hari-hari dimana Rasulullah SAW mencontohkan agar kita lebih meningkatkan ibadah kita bertaqarub kepada Allah swt. Karena disepuluh akhir bulan Ramadhan ini lailatul qadar atau malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan akan turun sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW. Bahwa ibadah dimalam itu lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW juga telah menegaskan di dalam hadisnya yang lain menyatakan: “Barang siapa yang bangun dan melakukan ibadah pada malam lailatul qadar dengan penuh keikhlasan dan keimanan, maka segala dosanya diampunkan oleh Allah swt.”

Lantas bagaimana kita akan menyikapi situasi ini dan mendapatkan malam lailatul qadar jika kita terus disibukan dengan tradisi mudik lebaran yang hiruk pikuk dan setiap tahun semakin semarak, semakin menarik dan semakin tak terbendung dengan eforia untuk merayakan kemenangan yang pada hakekatnya terkadang ada kemungkinan diantara kita semua entah karena ketidak tahuan, kita hanya merayakan “kemenangan semu”, sebab tanpa dilandasi dan didasari oleh sikap mengharap ridha Allah dan Taqwa kepada Allah. Alangkah meruginya kita yang terjebak dalam situasi seperti ini tanpa dapat memanfaatkan sisa- sisa Ramadhan dengan ibadah dan taqarub. Berhari-hari terkadang di jalanan padat dan macet, tertidur kelelahan mengantre tiket, berdesakan menunggu kendaraan di terminal keberangkatan, berseliweran hilir mudik di jalan raya. Bahkan semua berlomba-lomba menggunakan kendaraan pribadi dan umum tanpa mengindahkan rambu-rambu dan keselamatan diri pribadi dan keluarga untuk bisa sampai di kampung halaman.

“Apakah kita termasuk orang orang yang telah terlalu disibukan dengan urusan dunia sehingga terlalaikan menggunakan kesempatan baik dibulan baik untuk menambah taqarrub kita kepada Allah swt. ?”

Andai demikian kenyataannya marilah kita memohon kepada Allah swt untuk selalu diberikan hidayah dan petunjuk agar kita semua dapat menyikapi dan mengambil sikap yang lebih arif dan bijaksana untuk tidak melulu kehilangan kesempatan dalam mengisi kegiatan yang bermanfaat dibulan Ramadhan dan memohon ampunan Allah swt dalam mencari kebaikan dan kemuliaan di sepuluh akhir bulan Ramadhan dalam rangka memperbaiki dan kontemplasi diri untuk menjadi insan yang benar-benar taqwa. Sebagaimana firman Allah swt dalam Alquran surat Al-baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum kamu agar kamu benar-benar menjadi orang yang bertaqwa”.
Selamat mudik lebaran untuk merayakan hari raya kemenangan Idul fitri di kampung halaman, “ingat keluarga anda dan anak anda menunggu dengan penuh harap, utamakan keselamatan diri, keluarga dan jiwa serta orang lain dalam aktivitas mudik” semoga Idul Fitri Tahun ini kita benar-benar kembali kepada “Fitrah Manusia” dengan jiwa yang bersih tanpa noda dan dosa bagaikan bayi yang baru lahir untuk menyongsong hari esok dan masa depan bangsa bersama pemimpin baru negeri kita untuk membawa kebaikan bagi kita umat islam khususnya di Indragiri Hilir dan bangsa Indonesia umumnya menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur sebagaimana cita-cita yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. “Selamat Idul Fitri 1435 H Mohon Maaf Lahir dan bathin.”

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s