Posted in Kajian Islam

ESENSI PUASA RAMADHAN DAN ZAKAT FITRAH

Tidak berapa lama lagi dan tinggal menghitung hari saja kita umat muslim akan mengakhiri puasa di bulan Ramadhan tahun ini yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana tempat kita melaksanakan ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam diantara rukun Islam yang lima. Selaku muslim yang beriman, di bulan yang Mubarak ini kita ditempa dan dilatih untuk dapat benar-benar menjadi seorang insan yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 183 Yang bermakna : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum kamu agar kamu benar-benar menjadi orang yang bertaqwa”.

Sebagai bulan dan tempat penempaan dan pelatihan diri,  Ramadhan sangat dinantikan kedatangannya oleh Muslim yang beriman. Bagi Muslim yang tahu akan banyaknya berkah dan karunia Allah di bulan ini mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang hanya ada sekali dalam setahun. Melalui Ramadhan, kita umat muslim diwajibkan berpuasa untuk tidak makan dan minum,  jima’ disiang hari serta menahan segala perbuatan baik itu zahir maupun bathin  yang menurut hukum syar’i dapat merusak, mengurangi pahala puasa dan membatalkan ibadah puasa itu sendiri.

Melalui ibadah puasa kita ditempa agar dapat mengendalikan segala nafsu yang dapat membawa kepada keburukan. Karena kecendrungan nafsu yang diperturutkan dan tidak dikendalikan secara benar akan selalu membawa kepada keburukan yang berujung kepada kerugian yang akan didapatkan. Ada berapa banyak orang-orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya dan selalu memperturutkannya akan berujung kepada kebinasaan.  Di dalam Al Qur’an Allah swt banyak menggambarkan dan mencontohkan tentang orang-orang yang selalu memperuturutkan hawa nafsunya,  yang akhirnya mengalami kebinasaan dan kehancuran sebagai pelajaran dan peringatan bagi kita muslim sesudahnya.

Ketidak mampuan untuk mengendalikan hawa nafsu yang bergelora dalam diri dan jiwa seorang muslim akan dapat diatasi dengan banyak melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Allah swt, yang salah satu jalannya adalah dengan melaksanakan ibadah puasa. Baik itu puasa Ramadhan ataupun puasa-puasa yang disunahkan oleh syar’i. Melalui ibadah puasa Ramadhan kita sebagai manusia dibimbing dan diarahkan untuk selalu dalam kondisi menjaga jasmani dan rohani dalam keadaan suci dan pola hidup sabar, sederhana, jujur, disiplin, teratur dan bersahaja serta peduli terhadap sesama.

Ketika berpuasa banyak godaan yang akan menghadang. Dan ketika seorang hamba berpuasa hanya Allah swt saja yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau hanya sekedar berpura-pura. Zahirnya dan tampilannya berpuasa namun dibalik semua itu tidak mampu menahan godaan-godaan yang dapat membatalkan pahala puasa, maka ini adalah pekerjaan yang sia-sia. Hendaknya janganlah kita seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Nasai dan Ibnu Majah Nabi SAW bersabda ” Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” Disinilah esensi dari kejujuran dan kesabaran yang hendak dicapai oleh ibadah puasa.

Didalam berbuka, kita disunahkan untuk mengikuti cara Rasulullah SAW, disinilah esensi dari kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan dalam menyantap dan menyiapkan makanan untuk berbuka. Sehingga kita dapat merasakan dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang tidak berpunya. Disiplin, teratur dan bersahaja akan sangat tergambar jika kita benar-benar menghayati dan mengamalkan ajaran puasa dengan melaksanakan ibadah tepat waktu dan berjamaah mendatangi mesjid, surau atau langgar untuk melaksanakan tarawih witir dan beriktikap serta bermunajat keharibaan Allah Swt yang telah diatur waktunya sedemikian rupa.

Kontribusi ibadah puasa yang benar dan penuh dengan keimanan akan sangat berkaitan langsung dengan perilaku kita kedepannya dalam menjalani keseharian. Predikat lulus dan menang dalam tempaan Ramadhan akan dapat mengurangi perkara-perkara yang mendatangkan mudarat dan kebinasaan, dan mereka inilah pada hakikatnya yang berhak untuk merayakan Idul Fitri. Karena melalui puasa Ramadhan kita dididik untuk selalu berbuat sabar dan jujur dalam setiap tindakan, disiplin dalam setiap pekerjaan serta bersahaja dalam mengarungi kehidupan serta berempati kepada sesama saudara yang mengalami kesulitan.  Karena kita selalu diawasi oleh sang pencipta yakni Allah Swt. Kemanapun menghadap dan berpaling kita tidak akan pernah luput dari pengawasan-NYA. Kejujuran sangatlah penting bagi kemaslahatan ummat, apalagi bagi orang-orang yang diberikan amanah tertentu.

Didalam bulan ramadhan ini pula kita umat islam sangat dianjurkan untuk banyak beribadah dan melaksanakan ketaatan-ketaatan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Banyak melakukan sedekah, membaca Al Qur’an dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan.  Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Turmudzi,  dari Anas ditanyakan orang kepada Rasulullah SAW : Apakah sedekah yang paling utama ? Jawab Rasulullah SAW, sedekah yang paling baik ialah sedekah pada bulan Ramadhan.

Keistimewaan lain yang terkandung dalam bulan Ramadhan yang diberikan Allah swt kepada ummat Nabi Muhammad SAW adalah adanya malam kemuliaan (Lailatul-Qadar). Al-Qaqwani meriwayatkan dari Anas r.a ia berkata : Ramadhan telah masuk lalu Nabi SAW bersabda  Sesungguhnya telah datang padamu suatu bulan yang penuh barakah, Allah swt mewajibkan kepadamu mempuasakan-nya padanya, dibuka pintu surga dan ditutup pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. Padanya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, kepada siapa saja yang tidak diberikan kepadanya kebajikan pada malam itu, berartilah telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.”

Disisi lain bulan Ramadhan adalah diwajibkannya setiap muslim untuk mengeluarkan zakat yang dinamakan dengan zakat fitrah sebelum datangnya bulan syawal dimana khatib telah berdiri untuk membacakan khotbah idul fitri dihadapan umat muslim yang melaksanakan sholat Idul Fitri. Zakat fitrah ini bersifat wajib dan urgen sekali dalam rangka menyempurnakan pelaksanaan ibahdah puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Anas bin Malik Nabi SAW bersabda : “Puasa seseorang bergantung/melayang diudara/kawasan antara langit dan bumi, hingga ditunaikan sedekah/zakat fitrahnya. Dan apabila zakat fitrah itu sudah dibayarkan, maka Allah jadikan padanya dua sayap hijau, lalu puasanya itupun terbang dengan kedua sayap hijaunya langsung menuju langit ketujuh. Kemudian Allah swt menugasi (malaikat) supaya meletakan puasa itu didalam sebuah lampu gantung dari sekian lampu-lampu gantung ‘Arasy, hingga pemiliknya datang/menghampirinya”.

Melalui zakat fitrah ini kita diajarkan oleh Allah swt untuk saling tolong menolong dalam rangka membantu sesama saudara muslim yang kehidupannya dirasa tidak berkecukupan agar dapat juga menikmati dan marasakan indahnya hari kemenangan sebagaimana saudara-saudara yang berada. Agar dihari yang fitri dimana semua orang berpakaian serba baru dan memakan makanan yang serba enak dapat juga dirasakan oleh saudara-saudara muslim yang lainnya. Sehingga tidak ada lagi terdengar suara rintihan dan tangisan baik itu anak kecil dan orang-orang tua jompo yang tidak merasakan kegembiraan di hari kemenangan.

Sebagimana sabda Rasulullah SAW “seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Jangan menzalimi dan menyerahkannya. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya dan siapa yang menyelematkan seorang muslim dari satu bencana maka Allah akan selamatkan ia dari satu bencana dihari kiamat. Siapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah akan tutupi aibnya di hari kiamat (HR. Al Bukhori)

Apatah lagi di negeri kita negeri seribu jembatan ini masih banyak saudara-saudara kita jika kita telusuri baik itu di daerah pedalaman dan tepian sungai Indragiri yang hidupnya hanya bergantung pada alam yakni sungai Indragiri sebagai nelayan yang penghasilannya tidak menentu. Rumahnya yang beratap rumbia dan berdinding papan serta reot dan goyang oleh terpaan arus sungai Indragiri di setiap saat. Untuk itu mari kita sebagai muslim yang mampu dan telah ditempa sebulan penuh dalam Ramadhan kali ini untuk selalu berbagi dan memperhatikan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahilHamd. Selamat Idul Fitri 1434 H. Mohon Maaf Lahir Bathin. Wallahu ‘alam

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

2 thoughts on “ESENSI PUASA RAMADHAN DAN ZAKAT FITRAH

  1. ass..wr..wb. alhamdulillah, secara kebetulan sy sdg menulis khotbah unk Insya Allah akn sy sampaikan pd Ramadhan 1435 H yad, mhn diijinkan sy petik bbrp kalimat yg ada. Smoga Allah swt membalasx. tks. wass……

    1. Wa’alaikum salam wr.wb silahkan pak Haji, semoga apa-apa yang pak Haji niatkan menjadi kebaikan untuk Pak Haji dan para jamaah pak Haji serta muslimin dan muslimat yang mendengarkan khotbah pak haji semuanya, salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s