Posted in Senggang

Terganggu Oleh Petasan

Sudah tidak terhitung jumlah korban baik luka atau nyawa akibat membakar petasan. Anehnya kejadian seperti selalu berulang tiap datang Ramadhan. Alangkah naifnya bila membakar petasan yang merenggut nyawa dikaitkan dengan bulan Ramadhan. Seolah-olah membakar petasan dianggap bagian utuh dari ritual bulan Ramadhan.

Ramadhan belum lagi dan tinggal beberapa hari lagi, petasan sudah mulai beredar dan berbunyi, khususnya dimalam hari yang rata-rata dimainkan oleh anak-anak bahkan tidak ketinggalan juga para orang yang sudah lanjut usia.

Setahu saya kegiatan bakar membakar petasan ini sama sekali tidak ada dasarnya dalam Quran atau Sunnah Rasululah SAW. Juga tidak ada anjurannya dari kitab-kitab fiqih karya para ulama membakar petasan dalam bulan Ramadhan.

Entah bagaimana awal mulanya ramadhan kemudian menjadi identik dengan bakar petasan. Yang jelas tidak ada satu pun landasan syar`i tentang hal itu. Apalagi mengingat korban jiwa dan luka serta harta sudah tidak terbilang banyaknya. Maka sudah pada tempatnya agama Islam melarang kegiatan bakar membakar petasan terkait dengan datangnya bulan Ramadhan.


Petasan dan sebangsanya adalah benda terlarang. Sejak zaman Belanda sudah ada aturannya dalam Lembaran Negara (LN) tahun 1940 Nomor 41 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Bunga Api 1939, antara lain adanya ancaman pidana kurungan tiga bulan dan denda Rp 7.500 apabila melanggar ketentuan “membuat, menjual, menyimpan, mengangkut bunga api dan petasan yang tidak sesuai standar pembuatan”.

Mungkin karena peraturan tersebut sudah kuno dan terlalu ”antik”, maka pemerintah telah mengeluarkan berbagai macam peraturan, diantaranya UU Darurat 1951 yang ancamannya bisa mencapai 18 tahun penjara.

Lucu dan aneh, meski tiap menjelang Ramadhan selalu digelar razia petasan sampai ke pembuatnya, namun tiap datang Ramadhan, selalu saja kita dengar anak-anak bermain dengan petasan. Korban pun berjatuhan lagi.

Bunyi petasan yang dimainkan oleh anak-anak kita ini seringkali bahkan mengganggu ketentraman warga yang ingin beribadah, sebab petasan terkadang dibunyikan sengaja didekat masjid dimana warga melaksanakan ibadah tarawih.

Secara pribadi juga terkadang saya dirumah merasa terganggu dengan dentuman petasan petasan ini. Hal yang juga menghawatirkan adalah bahaya percikan api yang ditimbulkan petasan yang berkemungkinan dapat menimbulkan kebakaran.

Himbauan dan ajakan selalu dibuat setiap Ramadhan. Bahkan himbauan dan ajakan tersebut dibuat khusus oleh kepala daerah / wilayah masing-masing. Namun himbauan dan ajakan tinggal himbauan diatas kertas, jangankan untuk mengikuti himbauan tersebut, membacanya saja pun mungkin oknum oknum yang selalu bergelut dengan bisnis petasan ini rada-rada malas. Barangkali perlu tindakan lebih tegas lagi dan tidak hanya sekedar himbauan semata.

Entah apa yang salah dalam sistem kita ini. Benda yang dalam hukum dan undang-undang sudah dinyatakan terlarang, kenapa bisa tetap beredar dimana-mana dan tetap terdengar. Aparat bukan tidak tahu beredarnya petasan dimana-mana, tapi lucu sekali kalau ternyata masih saja beredar. Wallahu’alam…

“Selamat menyambut Ramadhan 1432 H, Mohon maaf lahir dan batin”.

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s