Posted in Pendidikan

Bentengi Diri Dan Keluarga Sejak Dini

Belakangan banyak peristiwa kejahatan yang mencuat kepermukaan, yang menjadi penyebabnya antara lain dan salah satu adalah kemerosotan nilai-nilai moral dan norma-norma dalam kehidupan. Yang lebih miris lagi korban adalah para anak-anak generasi muda yang masih mengeyam pendidikan di bangku-bangku sekolahan.

Terakhir, munculnya kasus-kasus kejahatan yang bersumber dari penggunaan teknologi informasi yang canggih lewat situs jejaring sosial. Kita semua menyadari bahwa kemajuan teknologi informasi dewasa ini sangat dahsyat sekali. Dalam hitungan hari bermunculan inovasi-inovasi yang mengundang decak kagum serta keingin tahuan semua orang. Sebagai salah satu contoh adalah perkembangan alat-alat komunikasi yang dilempar kepasaran yang selalu berganti-baganti model baik itu perangkat keras maupun perangkat lunaknya.

Sehingga muncul kesimpulan sebagian penggiat dan pemerhati masalah social, budaya dan ekonomi bahwa kita masyarakat konsumen/pengguna hanya korban dari perkembangan dan model-model alat komunikasi tersebut. Produsen dengan segala cara mengerahkan kemampuannya untuk membuat inovasi dan iklan sebagus dan semenarik mungkin untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.


Dengan strategi produsen yang demikian tanpa disadari kita sebagai pihak konsumen terbawa kepada budaya konsumtif tanpa logika sehat. Terkadang hanya karena sebuah iklan dan promosi pikiran kita bagaikan terhipnotis untuk segera mengikuti apa yang tersaji dalam iklan tersebut. Sementara logika sehat kerap dikesampingkan oleh konsumen bahwa sebenarnya konsumen bersangkutan belum perlu dan membutuhkan akan barang sebagaimana apa yang diiklankan oleh produsen tersebut.

Disamping itu perubahan budaya dan tata nilai dalam masyarakat kita sudah terjadi dalam segala segi. Minimnya penanaman nilai-nilai dan norma-norma kepatutan terutama nilai-nilai agama yang baik dalam keluarga yang dapat membentengi diri terutama bagi anak-anak sekolah dan generasi muda juga variabel pendorong terjadinya kemerosotan moral dan norma-norma kehidupan dikalangan generasi muda kita dewasa ini.

Fakta terjadinya penurunan nilai-nilai dan norma-norma agama yang ditanamkan pada generasi muda adalah bahwa jam pelajaran tentang agama serta nilai-nilai dan budi pekerti ketimuran disekolah-sekolah sudah tidak menjadi penting lagi. Transfer ilmu dengan sistim pengajaran seperti sekarang ini sangat membuka peluang untuk dialih fungsikan kearah negative jika tanpa control yang jelas.

Tak dapat dipungkiri lagi sekarang para guru acap kali memberi tugas dengan menyuruh anak-anak didiknya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan memanfaatkan internet. Dan bagi mereka yang tidak mempunyai jaringan internet dirumah sudah dapat dipastikan mereka akan pergi ke warnet tanpa pengawasan yang memadai. Sementara sebagaimana kita ketahui bahwa internet adalah suatu hasil temuan teknologi yang menyajikan beragam konten mulai dari yang negative sampai kepada yang fositif.

Terus terang sering saya menjumpai di warnet penuh dengan anak-anak sekolah yang bahkan masih dalam seragam sekolah tengah asik berselancar dengan teman sebanyanya. Kondisi seperti ini siapa yang tahu apa yang diperbuat mereka, apakah tengah mengerjakan tugas sekolah atau hanya sekedar bermain-main menghabiskan waktu tanpa ada manfaatnya dan tanpa ada yang mengawasi.

Pengawasan sudah sangat mendesak jika fakta ini terjadi disetiap daerah di Indonesia, pemerintah dan para pengamabil kebijakan harus turun tangan dengan regulasi untuk membatasi dan mengatur akses anak-anak dibawah umur berselancar di warnet. Disamping yang lebih utama dan mutlak adalah penanaman nilai-nilai agama disekolah dan keluarga agar ditinjau kembali sehingga lebih proporsioal dan berhasil guna. Program ceramah jum’at barangkali perlu dikembangkan dalam setiap unit sekolah mulai dari sekolah dasar sampai kepada sekolah lanjutan, dengan mengundang para da’i-da’i yang berkompeten untuk membina akhlak dan budi pekerti anak-anak didik disekolah-sekolah sebagai benteng dan pembinaan mental rohani mereka sejak dini.

Para generasi muda dan anak-anak didik kita mutlak harus diberi pengajaran dan pengertian bahwa konsekuensi tindakan yang dilakukannya jika tidak pada tempatnya akan berakibat buruk pada dirinya sendiri, keluarga dan lingkungannya. Mereka para anak-anak kita harus mengkaji ulang dan memahami kembali tentang konsep dan makna dosa (yang mungkin sudah tidak ditakutinya bahkan mungkin mereka tidak pernah lagi mendengar kata-kata ini) dan hukuman yang diterima jika melakukan sesuatu yang tidak sesuai ajaran agama yang dianutnya.

Kembali beberapa tahun kebelakang, suguhan dan konsumsi masyarakat akan akses informasi masih terbatas jika dibandingkan dengan saat ini. Disamping kran keterbukaan semakin bebas sejak reformasi, faktor lain yang sangat mendukung adalah kemajuan teknologi informasi itu sendiri yang tidak bisa dibendung.

Kini sejak bangun pagi dari tempat tidur hingga aktivitas tidur kembali dimulai pada malam hari suguhan informasi yang disajikan di media terutama televisi kita lebih banyak kekerasan, kebrutalan, konsumerisme, kemapanan yang tidak berfihak pada yang kecil, dan persoalan-persoalan berat yang mungkin membingungkan masyarakat kita yang sebagian besar masih berpendidikan menengah kebawah.

Informasi seoalah-olah tidak berimbang antara keberhasilan dengan ketidak berhasilan. Nuansa kesejukan dalam menonton tayangan informasi televise sepertinya sudah mulai hilang dan punah karena dipenuhi oleh hal-hal yang memicu emosi dan kebrutalan serta kekerasan. Ditambah lagi begitu banyaknya bermunculan pakar ini dan pakar itu yang berbicara serta berkomentar yang terkadang hanya berdasarkan opininya sendiri lalu menarik suatu kesimpulan. Syukur-sykur kesimpulan itu benar namun jika sebaliknya maka akan terjadi fitnah yang akibatnya sangat merugikan.

Perlu filter atau saringan bagi kita terutama saudaraku yang muslim secara person terhadap apa-apa yang disajikan ditengah-tengah arus informasi saat ini. Penanaman nilai-nilai, budi pekerti dan norma-norma agama yang benar sejak dini terhadap anak-anak dan keluarga kita mutlak dilakukan. Sehingga dengan bekal ini mereka dapat memfilter dan membentengi diri terhadap apa-apa yang dapat merugikan dirinya dan masa depannya.

Tidak ada yang salah akan kemajuan teknologi karena teknologi adalah produk/penemuan dari ilmu pengetahuan yang pada intinya adalah baik dan bersifat netral. Yang salah hanya terjadi pada person pengguna teknologi itu sendiri. Produk dan hasil teknologi itu merupakan variable bebas terhadap user/pengguna dan pemakainya. Artinya bermanfaat tidaknya produk ataupun hasil dari teknologi itu sangat dipengaruhi oleh person dan manusia yang menggunakannya.

Peran pemerintah baik didaerah maupun di pusat, semua elemen masyarakat pada umumnya dan orang tua di dalam keluarga dan guru di sekolah pada khususnya sangat dibutuhkan untuk dapat membentuk generasi bangsa yang dapat membentengi diri dari hal-hal yang merugikan tidak saja diri sendiri bahkan kelangsungan kehidupan seluruh anak bangsa ditanah air yang kita cintai ini. Wallahu’alam…

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s