Posted in Kajian Islam

DUNIA ADALAH BANGUNAN KROPOS

”Sesungguhnya bangunan wujud (dunia) ini akan rusak binasa sendi-sendinya, dan akan musnah semua kemuliaannya (kebesarannya).”

Itulah dunia , tidak kekal, karena memang sifatnya fana. Kefanaan dunia ini Nampak pada sifat-sifatnya, yakni sementara dan cepat rusak, membosankan, kalau tidak suka dibuang, menjadi barang yang tidak berharga, akhirnya tidak disukai lagi dan menjadi tidak berharga lagi. Itulah dunia. Semua yang ada di dalam alam mini adalah barang tontonan, datang lalu pergi, disukai lalu dibenci.

Pandanglah kefanaan diri kita sendiri. Masa bayi menjadi masa anak-anak, dalam proses perubahan terus-menerus, lalu menjadi manusia sempurna jasmani dan ruhaninya. Lalu memasuki masa tua, sekujur tubuh kitapun mengalami perubahan. Rambut menjadi putih, kulit menjadi keriput, mata menjadi rabun, gigi menjadi ompong, tubuh yang dulunya kokoh menjadi lemah, dan selanjutnya kitapun musnah dari muka bumi ini dengan kematian. Tidak ada seorangpun yang abadi tinggal dimuka bumi ini.

Seluruh mahluk akan mengalami kemusnahannya. Karena memang sifatnya fana. Pepohonan, segala tumbuhan, hewan dan semua margasatwa sifatnya fana, akan mengalami kemusnahan.


Kemudian manusia dan kejayaannya juga bersifat fana. Tidak ada satupun didunia ini yang tetap. Hari ini, kita melihat orang berpangkat dengan jabatan kebesarannya. Sampai waktunya ia harus menanggalkan pangkatnya, meninggalkan kebesaran dan kemuliannya. Hari ini kita melihat orang yang dianggap hina, miskin dan lain sebagainya, dengan keuletan dan keterampilan serta taqarrub-nya kepada Allah, ia menjadi terhormat dengan kekayaan yang berlimpah. Karena memang tidak ada yang tetap.

Tidak ada yang kekal di muka bumi ini. Oleh karena itu, seutama-utamanya manusia ialah orang yang memilih kekekalan daripada kefanaan. Memilih yang abadi daripada yang musnah.
Syekh Ahmad Ataillah menerangkan :

orang yang berakal adalah orang yang memilih kepada yang baqa daripada benda yang fana. Karena sungguh telah terang cahaya hatinya dan telah tampak wajah yang berseri.”

Hanya orang yang berakal saja yang lebih mengutamakan keabadian dari kefanaan. Karena keabadian itulah asal segala kehdupan, dan dengan keabadian itulah manusia ingin mencapai kebahagian sejati. Keabadian adalah kesejatian. Seperti difirmankan Allah swt, dalam surat Ar-Rahman ayat 27-28, “Tiap orang padanya kefanaan. Yang kekal adalah wajah Tuhanmu yang Maha Agung lagi Maha Mulia.”

Manusia berakal tidak menempatkan dunia ini sebagai sesuatu yang mengikat dirinya. Ia mengambil dunia hanya sekadar untuk menunjang ibadah dan amal. Demikian juga, walaupun dunia itu terasa nikmat dan disukai, namun ia tetap bukan sesuatu yang kekal. Seperti dikatakan oleh Sahl bin Abdullah, “siapa yang senang pada sesuatu yang tidak layak disenangi, maka ia telah mendatangkan kesusahan yang tak habis-habisnya.”

Dunia bukan tempat yang harus dipeluk erat-erat, ia adalah rumah kontrak sementara. Manusia akan menemukan rumah yang abadi, darul khuld, darul akhirat yang tidak akan ditinggalkan dan tidak akan meninggalkannya. Syekh Ataillah berkata :

“Dia memalingkan muka dari dunia ini dengan memejamkan mata dan menjauhkan diri darinya, lalu diletakkan dunia itu dibelakangnya. Ia tidak menganggapnya sebagai tanah air, dan tidak menjadikannya sebagai tempat tinggal.”

“Bahkan ia terus membangkitkan semangat ingin segera sampai kepada Allah, dan terus berjalan menuju kepada-NYA, dengan terus-menerus mengharap inayah-NYA agar segera sampai kepada-NYA.”

Untuk sampai kepada Allah, manusia memerlukan alat yang dapat membawa hamba Allah ini kepada-NYA. Tentunya hanya dengan berbekal ibadah dan amal saleh orang akan sampai kepada Allah. Namun demikian semuanya dikembalikan kepada karunia Allah jua adanya. Muhammad Al-Jariry mengatakan, “Tiada satu amal ibadahpun yang akan menyampaikan manusia kepada Allah, melaikan dengan izin Allah. Siapa yang berpikir amal ibadahnya akan membawa dia secara mutlak menemui Allah, maka ia telah sesat dari jalan yang benar.”

Hanya dengan rahmat dan karunia Allah sajalah manusia akan memperoleh kebahagiaan melepaskan dunia ini, dan hanya dengan karunia dan inayah Allah jugalah manusia dapat berjumpa dengan Khalik Pencipta alam semesta ini. Namun demikian, Allah tetap memberikan harapan kepada hamba-hamba-NYA untuk sampai kepada Allah swt. Syekh Ahmad Ataillah menjelaskan pula :

“Senantiasa semangat hamba Allah itu terus berjalan tidak berhenti, hingga ia tiba dan berhenti disisi Allah, di atas hamparan kebahagiaan, tempat ia bermunajat dan bertatap muka, tempat saling duduk bercengkrama. Ditempat itu ia bermusyahadah, tempat ia menelaah. Disitu Allah Ta’ala menjadi tumpuan hati mereka. Di sisi Allah itulah menjadi tempat kembali mereka dan tempat mereka tinggal.”

Bagi hamba Allah yang tekun beribadah dan beramal saleh, perjalanannya menuju Allah akan terus dihidupkan dengan semangat yang tidak pernah padam. Perjalanan dengan kendaraan iman dengan roda-roda dari ibadah dan amal saleh itu terus berputar mendaki dan menurun diatas bukit dan lembah kehidupan yang bernama dunia. Terus tergulir dengan himmah yang ditempa iman hingga sampai kehadapan Allah swt. Yang menanti dan menerima hamba yang datang dengan ikhlas hati untuk menerima keridaan Allah Jalla Jalaluh. Di sisi Allah keridaan dan karunia-NYA mereka terima.
Syekh Ahmad Ataillah mengingatkan :

“Apabila mereka telah dilangit, atau mereka turun ke bumi, semuanya dengan izin Allah, dengan keyakinan yang kokoh. Mereka selalu menunaikan kewajiban dengan adab dan kesopanan, dan k arena lupa, serta mereka tidak mengikuti panggilan hawa nafsu, dorongan nafsu syahwat atau kepentingan duniawi. Akan tetapi mereka masuk ketempat yang mulia itu adalah dengan inayah dan kasih sayang Allah, dan mendapat keridaan Allah. Tetap berpegang dengan tuntunan Allah serta mengharapkan semata-mata hidayah dan taufik-NYA.”

Yang selalu dicari hamba yang saleh adalah tidak lain dari rida Allah. Mengharapkan agar Allah memasukannya bersama orang-orang salihin, siddiqin dan syahidin. Seperti bunyi do’a orang-orang saleh

“Dan katakanlah, wahai Tuhanku, masukanlah aku dengan cara yang baik, dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik pula, agar pandanganku tetap pada kekuasaan dan kekuatan-MU, ketika Engkau memasukan aku, demikian juga penyerahan jiwa raga dan ketetapan hanya kepada-MU, disaat engkau mengeluarkan aku.”

Dan jadikalnlah untuku dari sisi-MU kekuasaan penolong yang akan menolongku, dan menolong kawan-kawanku, dan bukan penolong nafsu dan musuh-musuhku, menolongku agar mampu mengetahui kelemahan diriku dan nafsuku, dan menghilangkan perasaan yang terkungkung dalam jiwaku.”

Disalin dari buku Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam karangan Syekh Ahmad Ataillah.

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

2 thoughts on “DUNIA ADALAH BANGUNAN KROPOS

  1. Usul nih pak, untuk menaikkan rank blog, kan kita biasa meninggalkan komeng, eh komentar. Tetapi ketika komentarnya harus dimoderasi itu biasanya tidak disukai pengunjung, kecuali blog/web yang sangat rahasia atau sangat penting sekali. Jadi menurut saya, mohon moderasi komentar di blog bapak dihilangkan aja, biar pengunjung lebih senang berkomentar. Terima kasih.

  2. Oke deh pak, ntar dihilangin aja moderasinya. Trimakasih usulnya. Tempo hari maunya gitu tapi gak sempat nyari belum dimana ya ngilangin moderasi komennya, Pemula banget… dan Maklum juga ngeBlog mesti ke warnet dulu yg jaraknya dari rumah kira-kira 24 Km. sekali lagi trima kasih usulnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s