Posted in Artikel dan Opini

MENDULANG SUARA

p1010042

Menjelang pesta demokrasi yang hanya beberapa bulan saja lagi di tahun 2009 untuk yang kedua kalinya dalam sejarah pemilu langsung diera reformasi yang boleh dikatakan demokratis, kita dihadapkan dengan situasi perekonomian yang kurang menguntungkan akibat krisis yang terjadi di Amerika Serikat. Banyak Perusahaan yang merumahkan pekerjanya karena sudah tidak mampu lagi membayar upah para karyawan, buruh dan pekerjanya.

Tanpa terkecuali juga jika krisis ini berbuntut panjang besar kemungkinan unit-unit usaha baik skala kecil apalagi skala besar bakal gulung tikar. Dengan berjatuhannya unit-unit usaha ini maka akan menciptakan pengangguran dan kemiskinan yang tidak dapat dibayangkan efeknya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam kondisi perekonomian normal-normal saja masih kita jumpai para penganguran dan kemiskinan di sekitar kita. Ada banyak cara dan program serta kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sendiri dalam hal mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan. Tapi hasilnya masih belum memuaskan kita semua.

Terlepas dari persoalan ekonomi tersebut, pesta demokrasi yang bakal kita lalui tahun 2009 terlihat sama sekali tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi dunia. Terbukti saat ini dimana ditempat saya bertugas yakni di Kecamatan Tempuling kabupaten Indragiri Hilir semarak akan menyambut pesta demokrasi semakin hari semakin gempita. Atribut-atribut partai seperti baliho dan bendera partai sudah terlihat banyak menghiasi diberbagai sudut kota dan ruang. Kota yang dulunya sepi sekarang disulap menjadi seolah-olah ramai oleh lambaian spanduk dan bendera partai dengan warna warni khas partainya tersendiri.

Tidak ketinggalan pula baliho dan poster dengan ukuran besar yang memuat wajah-wajah yang dipermak sedemikian rupa bak seorang tokoh dan selebriti ingin dikenal sebagai bakal calon wakil rakyat, yang bakal memperjuangkan aspirasi rakyat dipajang dan terpampang dimana-mana. Terkadang atribtut-atribut tersebut dipasang tidak pada tempatnya dan sudah tidak mengindahkan lagi akan keteraturan dan keindahan. Bagaimana kita akan memilih para wakil rakyat yang demikian sebab belum lagi resmi menjadi wakil rakyat sudah tidak bisa memilih dan menempatkan diri pada situasi bagaimana seharusnya bertindak untuk selalu taat aturan.

Sebagaimana kita tahu bahwa tahapan pemilu akan didahului dengan tahapan pemillihan calon anggota legislative yang kemudian disusul dengan pemilu presiden dan wakil presiden. Belakangan sebelum dikabulkanya uji materil oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sebagian pasal undang-undang pemilu yakni pasal 214 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, banyak para calon wakil rakyat yang telah melakukan praktek jual beli nomor urut agar bisa memiliki nomor urut paling atas. Bagi mereka hal ini lumrah dan entah bagi anda……..

Inti dari pasal 214 menyatakan, caleg DPR, DPD, dan DPRD terpilih ditentukan berdasar calon yang memperolah suara sekurang-kurangnya 30 dari bilangan pembagi pemilih (BPP). Jika calon yang memenuhi syarat melebihi jumlah kursi, kursi diberikan kepada calon dengan nomor urut kecil.

Namun pasca adanya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memutuskan bahwa caleg pada pemilu 2009 ditentukan melalui system suara terbanyak dan bukan berdasarkan nomor urut maka kesempatan bagi para caleg semakin terbuka lebar terutama mereka yang tidak berada di nomor urut paling atas. Artinya mereka yang berada pada nomor urut buncitpun berpeluang menjadi anggota legislative.

Menurut MK pasal 214 tersebut inkonstitusional karena bertentangan dengan subtansi kedaulatan rakyat sebagaimana diatur dalam UUD 1945. MK mempertimbangkan ketentuan pasal 214 yang menyatakan bahwa calon anggota legislative terpilih adalah calon yang mendapat suara di atas 30 persen dari BPP (bilangan pembagi pemilih) atau menempati nomor urut lebih kecil, bertentangan dengan makna subtansif dan prinsif keadilan.

Sekarang sudah jelas bahwa siapa saja akan berpeluang sama untuk dapat duduk di kursi dewan yang terhormat, tinggal bagaimana caranya mendulang suara sebanyak-banyaknya. Yang patut diingat oleh para bakal calon anggota dewan yang terhormat adalah bahwa kehidupan rakyat ditengah-tengah kirisis dan kesulitan ekonomi saat ini hendaknya tetap mengedepankan nurani dan menawarkan program untuk perbaikan-perbaikan kehidupan masyarakat banyak dan jangan ambil kesempatan dalam kesempitan untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya.

Kepada saudara-saudaraku, abang, adik, kakak, encik, puan, datuk, nenek, abah, emak, paman, makcik, pakcik para tetangga dan sanak family serta handai taulan baik yang dilaut dan didarat sekalian yang bakal memilih wakil rakyat nantinya, jangan hanya asal pilih. Pilihlah wakil rakyat yang benar–benar memperjuangkan aspirasi rakyat dan bukan wakil rakyat yang saat perlu suara datang kepada kita namun saat diminta memperjuangkan aspirasi mereka seolah tak mengenal kita lagi. Habis Manis Sepah Dibuang kata pepatah………. Dan bukan kate saye ………… wassalam…….

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

2 thoughts on “MENDULANG SUARA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s