Posted in Kajian Islam

PEMBERIAN ALLAH SWT dan IHWAL MENYIKAPINYA

Bukan hal yang mengada-ada jika dikatakan bahwa sejak dini AL-Qur’an telah membicarakan masalah kebutuhan hidup (pangan). Salah satu wahyu yang diterima Rasul saw menegaskan kaitan penyediaan kebutuhan (pangan) dan ketulusan serta keikhlasan beragama : Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? itulah yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi pangan bagi yang miskin (QS 107:1-2).

Ayat tersebut tidak berbicara tentang kewajiban “memberi pangan” akan tetapi kewajiban “menganjurkan memberi pangan”. Dan ini berarti setiap orang – walaupun tidak memiliki kelebihan – dituntut paling tidak sedikit berperan sebagai “penganjur pemberian pangan”.

Tugas ini dapat diperankan oleh siapa pun yang merasakan penderitaan orang lain. Setiap orang harus merasakan kebutuhan orang lain walaupun tidak mampu untuk memberikan bantuan. “Menganjurkan memberi pangan” dan bukan “memberi makan” dimaksudkan agar pemberi tidak merasa memberi makan orang yang butuh karena pangan yang diberikannya itu pada hakikatnya bukan miliknya saja tetapi disitu ada juga hak orang lain yang membutuhkannya.

Pelajaran yang dapat kita petik dari ayat diatas adalah bahwa kita semestinya selalu saling tolong menolong dalam hal pemenuhan kebutuhan untuk menopang hidup. Yang kaya dituntut untuk mengayomi yang miskin, yang memiliki harta berlebih semestinya selalu memberi pada yang kekurangan. Yang berkuasa serta berwenang semestinya menyediakan pemenuhan kebutuhan tersebut dengan baik dan adil serta tepat sasaran.

Belakangan ini sering kita dengar berita baik itu di koran, televisi, radio dan media lainnya bahwa suatu waktu kita akan kekurangan sumberdaya – baik alam maupun sumberdaya yang dihasilkan oleh ciptaan manusia sendiri – yang dipergunakan untuk menopang keberlanjutan kehidupan umat manusia. Sikap yang diambil atas semua itu adalah melakukan penghematan dalam segala hal. Namun apapun itu, sudah cukup efektifkah apa yang kita lakukan dalam menyikapi keterbatasan dan berkurangnya semberdaya alam.

Maraknya kekisruhan belakangan ini perihal mulai sulitnya pemenuhan kebutuhan untuk menopang kehidupan kita sehari-hari seperti mahalnya harga-harga bahan kebutuhan pangan, sandang dan papan, langkanya bahan-bahan kebutuhan tersebut dipasaran serta kecendrungan terus melonjaknya harga-harga kebutuhan sungguh sangat membuat kita terus khawatir dan prihatin. Kekhawatiran yang terus mendera kita kalau tidak kita sikapi dengan arif dan bijaksana serta dengan sudut pandang yang baik dan jernih akan berdampak serius dan berakibat fatal bagi individu, keluarga, kelompok dan elemen masyarakat serta Bangsa dan Negara ini.

Bak buah simalakama yang ditanggung oleh saudara kita selaku pemegang amanah menjalankan roda pemerintahan di negeri ini. Terlepas dari persoalan amanah atau tidaknya mereka yang pasti siapapun apabila dihadapkan dengan situasi sulit seperti saat ini – kesulitan pangan, sandang dan papan, melonjaknya harga-harga, kemiskinan, brutalnya masyarakat, banyaknya mafia yang memancing di air keruh, spekulan, penimbun barang dan perilaku diluar kemanusiaan serta melanggar aturan dan terakhir APBN yang defisit serta beban subsidi yang besar – sudah barang tentu akan mengalami kesulitan untuk menyikapinya. Banyak instrumen kebijakan dan aturan serta undang-undang dalam rangka menjawab persoalan tersebut dibuat dengan dana yang besar oleh pemerintah bekerjasama dengan badan legislasi kita, tapi hanya sebatas tulisan diatas kertas yang sulit diimplementasikan dilapangan.

Agama menekankan bahwa sumberdaya alam pemberian Allah swt (untuk pemenuhan kebutuhan manusia) tidaklah kurang, akan tetapi sikap kitalah yang perlu diluruskan dalam hal ihwal pemanfaatan sumberdaya alam sebagai karunia dan nikmat serta pemberian dari Allah swt : Dia telah memberikan kepadamu (menyiapkan) segala apa yang kamu harapkan. Jikakamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat aniaya lagi sangat kafir (QS 14:34)

NIkmat Allah, termasuk sumberdaya alam, terlalu banyak untuk dapat dihitung, tetapi kita pada zaman kini merasakannya seolah-olah terbatas dan tidak bisa mencukupi. Hal ini disebabkan, menurut ayat tersebut, Pertama karena manusia sangat aniaya, baik terhadap sumberdaya alam maupun terhadap sesama dan diri sendiri. Manusia bersikap aniaya terhadap sumberdaya alam, karena suka berlaku boros menggunakan sumberdaya. Dan bersikap aniaya terhadap sesama dan diri sendiri, karena manusia terlalu rakus serta serakah. Karena kerakusannya sehingga sesamanya tidak kebagian dan dirinya sendiripun terganggu ketenangan serta kesehatannya akibat rakus, serakah, tamak, pongah dan tidak merasa pernah puas dengan apa yang dimiliki sehingga hak orang adalah hak dirinya. Kedua karena kekufuran yaitu mengingkari nikmat Allah swt yang telah diberikannya kepada kita, tidak menggunakan nikmat Allah swt tersebut secara adil dalam artian sesuai dengan keadaan dan tempatnya.

Marilah kita sama sama menyikapai situasi sulit zaman ini dengan kembali kepada ajaran dan petunjuk yang diberikan oleh Allah swt. yaitu Janganlah berlaku aniaya serta kufur terhadap pemberian dan nikmat Allah swt. Selalu menghemat dan tidak boros serta selalu membantu sesama. Mudah-mudahan kebutuhan kita tercukupi serta kita selalu dalam lindungan Allah swt.

Penulis:

Hanya seorang hamba yang ingin berbagi dan bersilaturahmi, mencoba belajar menulis semoga apa-apa yang ditulis membawa manfaat bagi diri sendiri terutama dan bermanfaat untuk orang banyak. Mari tebarkan kebaikan dan jauhkan segala permusuhan semoga bangsa yang kita cintai ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menjalani kehidupan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s