Posted in Menyanyah

Takkala Utoh Ladom Bersua Mukidi (2)

utoh-ladom
Beginilah gaya Utoh Ladom mancing, tapi ini bukan Utoh Ladom, jika ada nama, peristiwa dan tempat kejadian yang sama atas menyanyah ini, itu hanya kebetulan saja, dan bukan ada maksud apa-apa, cerita ini dibuat tiada maksud lain, selain menyanyah, hehehe…

Mata Mukidi sudah mulai terasa berat, kantuk sudah menyerang, jam didinding sudah menunjukan pukul 25.70 menit Waktu Indonesia Ujung. Persiapan untuk berangkat esok kabur dari kota yang telah membesarkan Mukidi hampir rampung, tinggal cas HP kucingnya lagi yang belum dikemas. “Kalau ini tertinggal bakalan sesat perjalanan besok menuju kota tak terlacak” ujar Mukidi sambil memasukan cas HP kucingnya kedalam tas.

Sembari merebahkan diri, Mukidi teringat saat-saat mudanya dulu. Saat masa-masa SMA jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta monyet bersemi, terasa indah, dunia seakan milik berdua, yang lain numpang saja.

Dahulu mengungkapkan cinta dituliskan melalui sepucuk surat. Surat cinta buat sang kekasih pujaan hati. Tidak seperti sekarang ini zaman sudah canggih. SMS, BBM, Whatsapp, messengger dan lain lainya bisa menggantikan sepucuk surat, guman Mukidi.

Pak pos orang yang paling ditunggu kedatangannya membawakan surat cinta dari sang kekasih. Jika dering sepeda pak pos berbunyi, alangkah gembiranya hati, padahal siapa yang berkirim surat belum tahu, namun perasaan itu adalah surat dari si doi, sebab seumur-umur baru sekali kirim surat jadi tahu balasannya dari siapa hehehe …

Lanjutkan membaca “Takkala Utoh Ladom Bersua Mukidi (2)”

Posted in Menyanyah

Takkala Utoh Ladom Bersua Mukidi (1)

Jembatan Indragiri
Dulu sewaktu dibangun Jembatan Indragiri ini andil Utoh Ladom sangat besar, saat ditanya dalam hal apa, Utoh Ladom lupa lupa ingat, “Kalau tak salah saya dulu saya setiap hari selalu pegang kuas” jawabnya pula sambil berlalu.

Ketenaran Mukidi dalam beberapa minggu ini membuat dirinya merasa resah dan gak nyaman lagi. Mukidi merasa dirinya tak bebas seperti dulu waktu belum terkenal dan setiap hari sekarang telipat-lipat di upload dan share orang-orang di whatsapp, BBM, Facebook, twitter, instagram dan medsos lainnya.

Sambil merenung dan berpikir keras bagaimana agar tidak terbelenggu oleh ketenaran di dunia maya ini. Mukidi kelihatan sangat bingung dan malam itu sudah satu galon dia menghabiskan kopi campur nutrisari rasa mengkudu, “biar kuat dan gak ngantuk” celetuknya pada cicak didinding.

Hal yang membuatnya tambah bingung dan baper gak nyaman, dirinya lagi dicari-cari polis yang pernah beli obat antimo tengah malam saat hujan angin badai lagi dengan Mukidi. Pasalnya si polis ini makan obat yang dijual Mukidi ini gak mempan aluas gak ngefek. Mukidi dianggap telah menipu si polis ini karena menjual obat antimo tidak ngasih tahu bahwa tulisan di bungkus obat tersebut hanya untuk anti mabok satuan laut, darat dan udara dan bukan untuk mabok satuan lainnya seperti polis, satpol PP ataupun kadapol alias kada polis.

Lanjutkan membaca “Takkala Utoh Ladom Bersua Mukidi (1)”

Posted in Menyanyah

Pelantar Goyang

Anda yang pernah manghirup udara 70 an dan 80 an di Sungai Salak mungkin tidak asing lagi dengan judul diatas.

Tak usah di tanya dan diceritakan atau digambarkan apa itu pelantar goyang, karena merasa mengalami sendiri, mendengar dan melihat sendiri.

Kali ini boleh lah saya berbagi kisah dan cerita dengan yang terlahir pasca 70 an dan 80 an. Sekedar pengetahuan saja sedikit, boleh kan ?

Disamping ungkapan pelantar goyang, ada lagi nama-nama yang lain semisal sinar dagang, simpang raya, saigon, andesis dan sebagainya.

Lanjutkan membaca “Pelantar Goyang”

Posted in Info Daerah

Hari Kemerdekaan

HUT RI
Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT RI ke-71 2016

“Apa tanda Melayu jati, mensyukuri nikmat sepenuh hati. Apa tanda orang bertuah, mensyukuri nikmat tiada lengah

Betapa nikmatnya udara segar kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah direbut oleh para pendahulu pejuang kusuma bangsa, dengan mengorbankan jiwa raga secara tulus dan ikhlas.

Sikap dan karakter dari para pahlawan yang demikian, harus dijadikan contoh dan tolok ukur kita sebagai generasi penerus perjuangan dalam mengisi kemerdekaan dengan melakukan pembangunan disemua bidang terutama dalam kondisi bangsa yang akhir-akhir ini cenderung mengalami berbagai pergeseran nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Adat budaya Melayu sebagai wujud jati diri masyarakat Melayu, adalah bahagian terpenting dari usaha kita dalam menjaga marwah dan martabat negeri ini. Inilah saatnya kita menyatukan persepsi, berpadu serta bekerja secara bahu membahu sehingga menjadi kekuatan dalam kegiatan pembangunan daerah tanpa lepas dari kearifan lokal Tanah Melayu.

Lanjutkan membaca “Hari Kemerdekaan”

Posted in Senggang

Batu Akik, Gaungnya Kemana Sekarang

Akik Hendri
Koleksi Batu Akik

Seminggu menjelang Idul Fitri 1437 H kemaren, saat duduk-duduk santai menunggu waktu berbuka di depan rumah, sambil memperhatikan onggokan batu kerikil seukuran satu truk engkel, terlintas dalam benak saat booming batu akik sekitar setahun lalu.

Jam masih menunjukan pukul 17.10 wib.Sambil ditemani abang penjual sosis goreng yang selama bulan Ramadhan ini selalu mangkal di depan rumah, “lumayan juga mangkal di seputaran sini, karena sambil ibu-ibu belanja sayuran, anaknya sama bapaknya belanja sosis saya”, imbuhnya.

Sambil menggoreng sosis saya sempat juga berbincang-bincang alias berbual-bual dengan abang penjual sosis. “Apa kabar batu akik sekarang bang” ungkap saya membuka pembicaraan. “Udah dingin dan sepi”, jawabnya. Sambil menunjuk onggokan batu kerikil disamping kami, lantas dia berkata “ini tumpukan batu kalo sempat seperti gila-gilanya batu akik kemaren, udah banyak yang duduk-duduk ngais batu disini” celetuknya. “Iya bang betul kata abang tu”, sambung saya.

Lanjutkan membaca “Batu Akik, Gaungnya Kemana Sekarang”